10 Kota Kreatif di Indonesia (2)

0
194
Becak Lampu Alkid Yogyakarta

Perkembangan kota kreatif di suatu negara tidak terlepas dari usaha pemerintah dan para pelaku kreatif di kota tersebut. Pemerintah selaku fasilitator mesti dapat mendukung segala daya upaya uang dilakukan oleh para pelaku kreatif dalam mengembangkan kreativitas dan meningkatkan kesejahteraan dalam masyarakat.

Pada tahun 2004, UNESCO meluncurkan program Creative City Network (CCN).  dengan misi membentuk kerjasama internasional antara kota-kota yang menempatkan kreativitas sebagai faktor strategis untuk pembangunan berkelanjutan dengan melibatkan semua pihak terkait, yaitu pemerintah, swasta, organisasi profesional, komunitas, dan institusi budaya. CCN dirancang untuk memfasilitasi proses pertukaran pengalaman, pengetahuan, dan sumber daya antara anggotanya sebagai jalan untuk mengangkat industri kreatif lokal dan menumbuhkan kerjasama di seluruh dunia dalam pembangunan perkotaan yang berkelanjutan. Tujuan CCN adalah sebagai berikut:

  1. Memperkuat penciptaan, produksi, distribusi, dan konsumsi produk dan jasa budaya pada tingkat lokal;
  2. Mempromosikan kreativitas dan ekspresi kreatif terutama pada kelompok yang rentan, seperti perempuan dan anak muda;
  3. Meningkatkan akses dan partisipasi pada kehidupan berbudaya termasuk apresiasi terhadap produk budaya;
  4. Mengintegrasikan industri kreatif dan budaya ke dalam strategi pengembangan lokal.

Di Indonesia, pada tahun 2014, pemerintah telah memfasilitasi empat kota untuk dapat secara resmi masuk dalam jaringan Creative City Network, yaitu Bandung dan Surakarta sebagai Kota Design, Yogyakarta dan Pekalongan sebagai kota craft and folk art. Pada akhirnya yang menjadi bagian dari CCN adalah Pekalongan dan Bandung.

Dalam menyusun daftar ini, Editorial Indonesia Kreatif mempertimbangkan faktor-faktor seperti sejarah, budaya, kreatifitas warga, dukungan pemerintah daerah/kota, infrastruktur dan potensi kota.

Berikut ini lanjutan 10 kota kreatif di Indonesia versi Indonesia Kreatif :

5. Jakarta

Pada tahun 2012, Jakarta merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang diikut sertakan dalam perhitungan indeks GLCI (Global Liveability City Index) dan menempati peringkat terakhir dari 64 negara yang dinilai. Saat itu Jakarta dinilai sangat buruk dalam dua hal yaitu : pemeliharaan lingkungan dan rendahnya kualitas hidup penduduknya. Untuk stabilitas dan keamanan, Jakarta dinilai cukup baik. Sedangkan versi The Economist Intelligence Unit pada penilaian tahun 2015, Jakarta berada di peringkat 116 dari 140 negara yang dinilai. Jakarta masih lebih baik dari Hanoi, Vietnam (118); Ho Chi Minh City, Vietnam ( 122); dan Phnom Penh, Combodia (126). Jakarta masih tertinggal jauh dari Singapura (49), Kuala Lumpur, Malaysia (73), Bandar Seri Begawan, Brunei (101); Bangkok, Thailand (102); Manila, Philipina (104).

Global Liveability City Index The Economist Intelligent Unit 2015

Dalam beberapa tahun terakhir, Jakarta mengalami perkembangan yang cukup pesat dalam hal Infrastruktur dan kesehatan, walaupun untuk stabilitas masih sering menjadi pusat demonstrasi, sebuah konsekuensi dari ibukota negara. Untuk kesempatan berkreasi dan kreativitas, Jakarta masih memberikan peluang yang cukup baik bagi warganya, walau masih jauh dari standar internasional. Sebagai pusat bisnis Jakarta tidak bisa dilepaskan dari transaksi dan peluang bisnis kreativitas, dengan rutin diadakannya pameran dan festival skala besar seperti Inacraft dan PopCon.

4. Surakarta (Solo)

Pada tahun 2014, Surakarta diajukan menjadi salah satu kandidat Creative City Network, walaupun belum berhasil menjadi bagian CCN sebagai Kota Desain, Surakarta mempunyai akar budaya dan kreativitas yang kental. Maestro-maestro Seni Pertunjukan yang mendunia, seperti Rahayu Supanggah, Sardono W Kusumo, Sahita, Retno Maruti, dan Blacius Subono dikenal dengan kemampuan menciptakan wujud seni baru, dengan mengambil inspirasi kreatif yang berasal dari budaya lokal.

Salah satu kostum pada penyelenggaraan Solo Batik Carnival

Selain itu, Solo juga terkenal sebagai penghasil batik. Batik Solo memiliki ciri pengolahan yang khas menggunakan warna kecoklatan (sogan) yang mengisi ruang bebas warna dengan pemilihan warna yang relatif gelap mengikuti kecenderungan batik pedalaman, berbeda dari gaya Yogya yang ruang bebas warnanya lebih cerah. Beberapa usaha batik asal Solo yang terkenal adalah Batik Keris, Batik Danarhadi, dan Batik Semar. Sementara kalangan menengah dapat mengunjungi pusat perdagangan batik di Pasar Klewer, Pusat Grosir Solo (PGS), Beteng Trade Center (BTC), atau Ria Batik. Selain itu di kecamatan Laweyan juga terdapat Kampung Batik Laweyan, yaitu kawasan sentra industri batik yang sudah ada sejak zaman kerajaan Pajang tahun 1546. Kampung batik lainnya yang terkenal untuk para turis adalah Kampung Batik Kauman.

Keberadaan ISI Surakarta menjadikan kawasan Solo Utara diproyeksikan menjadi kawasan industri di masa depan. Pemerintah Kota Solo sudah memulai persiapan infrastruktur untuk mendukung program ini, dengan beberapa langkah yang diambil dengan melakukan penataan ruas jalan yang menuju Bandara Adi Sumarmo dan penataan pedagang kaki lima di Jalan Banjarsari. Walaupun penataan tersebut dinilai cukup lambat, pembangunan Business Distric Center yang akan diisi oleh industri kreatif akan menjadikan Solo sebagai salah satu kota yang serius membangun kawasan industri kreatif.

3. Yogyakarta

“Daerah-daerah yang tidak memiliki sumber daya alam yang berlimpah, seperti Daerah Istimewa Yogyakarta, justru harus fokus untuk mengembangkan sektor industri yang berbasis nonsumber daya alam seperti industri jasa dan industri kreatif. Saya yakin di masa yang akan datang, sektor industri jasa dan industri kreatif juga akan bisa menghasilkan lompatan kemajuan bagi perekonomian daerah karena sektor ini lebih mengandalkan inovasi teknologi,” demikian pernyataan Presiden Joko Widodo dalam pernyataan pers nya pada Kamis 20 April 2017.

Yogyakarta, lebih dikenal dengan kota pendidikan dan budaya, diyakini mampu menjadi tempat berkembangnya industri kreatif. Pemerintah Daerah Yogyakarta memprioritaskan 4 sektor industri kreatif yang akan mejadi andalan kota ini, yaitu fashion, kerajinan, film animasi video dan seni pertunjukan. Gubernur DIY juga segera merespon arahan presiden mengenai perkuatan Yogyakarta sebagai basis industri kreatif, menyatakan dukungannya dengan kesiapan memfasilitasi dan menyediakan studio animasi.

Becak Lampu Alkid Yogyakarta

Keunggulan Yogyakarta sebenarnya terletak pada kekuatan industri kerajinan mereka, dan kemampuan budayawan dalam seni pertunjukan juga menjadi nilai lebih. Kreativitas sudah mengakar dikalangan warga Yogyakarata, kesederhanaan dalam ide dan menyelesaikan masalah merupakan ciri warga kota ini. Pernyataan Presiden Joko Widodo merupakan dorongan moral besar bagi Pemerintah Daerah Yogyakarta untuk mengeluarkan potensi Yogyakarta dalam hal kreativitas.

2. Bandung

Seperti yang dikutip di UNECSO Creative City, City of Design, Bandung yang menjadi Kota Kreatif Desain UNESCO sejak 2015 memiliki peduduk lebih dari 2,5 juta jiwa telah menjadi pusat inovasi dan kreativitas, khususnya kreasi inisiatif yang didorong oleh kaum mudanya. Bandung sering menjadi tuan rumah berbagai lokakarya, konferensi dan festival, hal ini secara langsung mendorong perkembangan kreativitas, ide purwarupa dan desain produk pada khususnya. Kegiatan ekonomi Bandung 56% bertumpu pada kegiatan yang berkaitan dengan desain , fashion, desain grafis dan media digitalmenjadi sektor teratas dalam kegiatan ekonomi kreatif lokal.

Malam Peresmian Taman Film di Bandung (2014)

Bandung telah menjadikan delapan kelurahan menjadi desa kreatif, dengan begitu Bandung telah mendapatkan pemahaman yang cukup mendalam dalam pengembangan kota kreatif. Bandung Creative City Forum (BCCF) telah telah merintis perkembangan Bandung sebagai kota kreatif dan bertujuan untuk membina jaringan antar kota-kota kreatif. Creative Cities Conference yang diselenggarakan oleh kota Bandung menjadi salah satu kegiatan penting sebagai ajang diskusi pembangunan kota yang berkelanjutan dan juga sebagai ajang berbagi gagasan. Melalu kegiatan DesignAction, Bandung Workshop, dan kegiatan lainnya kota Bandung berharap dapat menemukan solusi konkret untuk masalah perkotaan melalui keterlibatan masyarakat dengan memperbaiki dan mendesain ruang publik inklusif.

Pemerintah Kota Bandung telah membuat komitmen yang kuat untuk menstimulasi ekonomi kreatif melalui penerapan pusat-pusat kreatif baru, kawasan industri, dan penelitian dan pengembangan. Contohnya melalui Program Inovasi Percepatan Pembangunan Daerah (PIPPK) dan sistem kredit Melati, yang memberikan dukungan finansial kepada pelaku dan menginkubasi industri kreatif baru. Pada tahun 2015, diluncurkan Bandung Creative Center (BCC) yang berfungsi sebagai pusat pemangku kepentingan baik di tingkat nasional maupun internasional untuk mendorong pertukaran pengalaman dan gagasan kreatif.

Bandung sebagai Kota Kreatif Desain UNESCO telah melakukan beberapa langkah berikut ini:

  • Membuat dan merevitalisasi taman-taman di kota Bandung dengan menggunakan konsep taman tematik, sebagai dedikasi untuk UCCN, sebagai simbol Bandung yang mewakili Kota Kreatif dalam berbagai bentuk seni, serta menampilkan keragaman budaya kota.
  • Meningkatkan kolaborasi dengan kota kreatif lainnya melalui festival kreatif, joint event dan workshop, salah satunya dengan karnaval Asia-Afrika dengan mempromosikan kota-kota yang kurang terwakili dengan kerjasama Selatan-Selatan
  • Mendirikan 30 Creative Hubs dan mendukung 100.000 pengusaha kreatif baru selama 5 tahun untuk meningkatkan ekonomi kreatif lokal, melalui Little Bandung Initiative, dengan program mengelola sudut-sudut kota didedikasikan untuk pertukaran produk gabungan, lokakarya dan acara dengan kota lain.

1. Pekalongan

Pekalongan, yang bergabung dalam UNESCO Creative City Network pada tahun 2014, dikenal juga dengan kota Batik, yang berpenduduk sekitar 300.000 orang ini adalah kota multikultural dimana berbagai komunitas etnis tinggal bersama dan menikmati ekspresi budaya melalui pameran, parade dan event yang diadakan seapanjang tahun.

Batik sebagai warisan budaya tak benda merupakan identitas kota, sangat terkait erat dengan seni, budaya dan ekonomi, desain dan produksi batik yang menjadi bagian penting dari identitas Pekalongan. Semua itu terintegrasi dengan baik dalam sistem pedidikan di kota Pekalongan, dan juga terintegrasi dalam rencana pembangunan dan pengembangan ekonomi kota.

Ilustrasi Pembuatan Batik

Prioritas kota Pekalongan saat ini adalah melindungi dan mengembangkan budaya batik dan desa kerajinan batik. Salah satu upaya nyata adalah dengan membangun Museum Batik dan workshop yang menjadi pusat seni yang penting bagi Pekalongan.

Pekalongan adalah contoh yang bagus tentang bagaimana pembangunan berbasis budaya dapat mendukung warga negara, terutama perempuan, dalam mengembangkan kegiatan menghasilkan pendapatan yang layak dan meningkatkan kualitas hidup mereka.

Sebagai Kota Kreatif Kerajinan dan Kesenian Rakyat, Pekalongan mempunyai program:

  • Menjaga tradisi Batik dan kombinasi unik antara seni, kerajinan dan pendapatan bagi warga Pekalongan;
  • Mengembangkan infrastruktur sosial, budaya dan ekonomi yang terkait dengan proses pembuatan batik;
  • Memperkuat institusi terkait dan mendukung kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk merangsang pendidikan tentang Batik, dan untuk melindungi dan mengembangkan budaya Batik;
  • Menumbuhkan ekonomi kreatif melalui kelompok pendukung dan sentra yang mengkhususkan diri pada Batik serta upaya peningkatan Batik di tingkat lokal, nasional dan global;
  • Menciptakan jaringan kolaborasi dengan pemangku kepentingan akademis, pemerintah dan masyarakat sipil di industri Batik;
  • Mempromosikan industri batik yang ramah lingkungan; dan
  • Mengembangkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mendukung pengembangan sektor Batik.

*Dari berbagai sumber, UNESCO Creative City Network adalah sumber utama untuk profil Bandung dan Pekalongan