Bedah buku Menjegal Film Indonesia: Pemetaan Ekonomi Politik Industri Film Indonesia

0
658

Teks & foto: Idhar Resmadi | Editor: Intan Larasati

Menjegal Film Indonesia

Carut marut industri perfilman di Indonesia membuat nafas film lokal terengah-engah di rumah mereka sendiri. Kondisi itu membuat jumlah penonton bioskop di Indonesia terhitung mengkhawatirkan sehingga para produser film pun lebih tertarik untuk membuat film-film komersil yang tidak mendidik. Seperti itulah kondisi yang dipaparkan dalam bedah buku Menjegal Film Indonesia: Pemetaan Ekonomi Politik Industri Film Indonesia di Kineruku, Jalan Hegarmanah No. 52 Bandung, Minggu (16/9).

Bedah buku yang menghadirkan pembicara Ekky Imanjaya dan Ifan Adriansyah Ismail dari Rumah Film dan dipandu oleh moderator Ariani Darmawan dari Kineruku itu memaparkan segala aspek yang berkaitan dengan kondisi ekonomi politik industri perfilman di Indonesia.

“Masyarakat kita itu belum memiliki budaya film yang baik. Kondisi itu berbeda jauh dengan kondisi di Bollywood (India) atau Nollywood (Nigeria) yang masyarakatnya sudah terdidik baik soal film,” ujar Ekky Imanjaya yang juga merupakan seorang dosen film di Universitas Bina Nusantara.

Menjegal Film Indonesia

Ekky menuturkan bahwa di India saja, semua lapisan masyarakat begitu menghargai sejarah perfilman negara mereka. Mereka juga menganggap film bukan sebatas hiburan, tapi menjadi sebuah produk budaya yang layak diapresiasi. “Makanya Hollywood pun bahkan sampai kesulitan untuk memutar film di India. Karena masyarakat India lebih tertarik pada film-film negara mereka sendiri,” ujarnya.

Di Nigeria, masyarakatnya juga sangat mencintai film. Bahkan produksi film di Nigeria itu sampai mencapai 200 film setiap satu bulan. Apresiasi film yang sangat tinggi itu membuktikan masyarakat yang sangat mencintai film-film negara mereka sendiri.

Menurut Ifa Andriansyah Ismail, kondisi carut marut perfilman di Indonesia dikarenakan adanya praktik monopoli dari para pelaku industri film dan belum adanya strategi kebudayaan yang jelas dari pemerintah.

Menjegal Film Indonesia

“Produksi film itu memang salah satu produk seni budaya yang sangat rumit karena melibatkan banyak hal. Resiko produser sangat tinggi, sehingga ingin untung. Hal itu membuat minimnya film-film terobosan di Indonesia,” ujarnya. “Tidak adanya strategi kebudayaan juga membuat praktik monopoli film menjadi salah satu faktor compang-campingnya kondisi ini. Banyak bioskop kecil yang mati di daerah. Kalau mau nonton film harus di bioskop tertentu dengan aturan main tertentu. Sehingga film-film alternatif tidak bisa diputar di sana,” lanjutnya.

Selain itu, maraknya film-film impor juga membuat kondisi perfilman lokal tertekan. Film-film lokal pun kesulitan untuk bersaing dengan masifnya film impor yang lebih menarik minat penonton. Kondisi itu membuat industri perfilman lokal terjepit.

Dari kondisi seperti itu, salah satu aspek yang patut ditawarkan yaitu lebih banyak membuat kantung-kantung alternatif dalam memutar film seperti lewat komunitas-komunitas film di kampus atau ruang-ruang kebudayaan alternatif seperti Kineruku. Seperti ketiadaan bioskop besar di Palu namun membuat para penonton berbondong-bondong menonton film di taman budaya, atau seperti di Aceh yang kerap mengadakan kantung alternatif dalam menonton film. Menurut Ekky, hal itu membuat gairah menonton film menjadi bangkit dan juga memunculkan produser-produser film alternatif yang bergairah memasarkan produk mereka.

Menjegal Film Indonesia

“Film itu adalah sebuah produk budaya visual dan perayaan sosial. Ketiadaan bioskop di beberapa tempat malah bisa menumbuhkan potensi masyarakat itu sendiri. Salah satunya, memberikan alternatif yang ada,” ujar Ekky.

Diskusi bedah buku yang berlangsung selama dua jam dan buku yang dibagikan gratis kepada para peserta diskusi ini berlangsung menarik setelah sesi pembicara selesai. Buku Menjegal Film Indonesia: Pemetaan Ekonomi Politik Industri Film Indonesia diterbitkan atas kerjasama Yayasan Tifa dengan Rumah Film yang mengkaji fenomena ekonomi politik industri perfilman di Indonesia beberapa tahun terakhir.

SHARE
Previous articleMemahami Kriya Indonesia di Pameran REPOSISI
Next articleBerpetualang Melalui Foto Panggung
Penulis lulusan Ilmu Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran ini lebih banyak menulis soal musik dan budaya populer. Buku yang pernah dibuatnya antara lain: Music Records Indie Label (Dar Mizan, 2008), Like This: Kumpulan Tulisan Pilihan 2009-2010 (Jakartabeat, 2011) dan Based on A True Story Pure Saturday (UNKL Books, 2013).