Bekraf Creatif Labs (BCL): Cikini Fashion Festival (CiFFest) 2017

0
247
Rancangan koleksi siswa IKJ

Siaran Pers – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bekerjasama dengan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menggelar Bekraf Creatif Labs (BCL): Cikini Fashion Festival (CiFFest) 2017 pada tanggal 5-6 Agustus 2017 di Teater Jakarta, Cikini, Jakarta Pusat. Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai upaya pengembangan pusat riset unggulan ekonomi kreatif subsektor Fashion. Kegiatan tersebut ditargetkan menjadi barometer perkembangan terkini terkait riset, karya, dan data subsektor fashion Indonesia.

Dengan begitu beragam budaya yang dimiliki, Indonesia mempunyai potensi untuk menawarkan gaya hidup yang terinspirasi lokal dengan selera internasional sebagai bagian dari perkembangan fashion global. Saat ini, fashion sebagai salah satu subsektor ekonomi kreatif menyumbang nilai tambah sebesar Rp 154,6 trilyun dan berkontribusi terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) Ekonomi Kreatif sebesar 18,15% atau sebesar 1,34% terhadap PDB Nasional, dengan pertumbuhannya mencapai 2,8% (BPS-Bekraf, 2016). Jika dilihat dari pertumbuhan PDB-nya, fashion dapat dijadikan subsektor prioritas ekonomi kreatif Indonesia.

“Penyelenggaraan CiFFest yang menjadi bagian dari program Bekraf Creative Labs (BCL) ditujukan sebagai sebuah forum atau temu pelaku ekonomi kreatif fashion dalam rangka ajang knowledge sharing dan capacity building sebagai upaya peningkatan kesejahteraan pelaku ekonomi kreatif fashion,” ungkap Abdur Rohim Boy Berawi selaku Deputi Riset, Edukasi, dan Pengembangan Badan Ekonomi Kreatif.

Beberapa karya siwa LPTB Susan Budihardjo

Sebagai forum atau temu pelaku ekonomi kreatif fashion Indonesia, baik dari industri, akademisi, pemerintah, dan komunitas, BCL: CiFFest 2017 ditujukan pula untuk mensinergikan kolaborasi dan komunikasi yang dapat meningkatkan jejaring kerjasama, produktivitas, dan kompetensi ekonomi kreatif fashion di tanah air. “Bekraf Creative Labs: Cikini Fashion Festival (CiFFest) 2017 juga diagendakan untuk mensosialisasikan perkembangan dan pencapaian dalam keseluruhan aspek ekosistem industri fashion; sekaligus merumuskan ekonomi kreatif fashion Indonesia” tutur Dina Midiani selaku Ketua Pelaksana BCL: CiFFest 2017.

Ajang BCL: CiFFest 2017 yang diselenggarakan oleh Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta terintegrasi dengan rangkaian acara Post Fest 2017, yakni festival seni tahunan yang diselenggarakan oleh Sekolah Pasca Sarjana IKJ. “IKJ sebagai sebuah institusi pendidikan tinggi, mengharapkan dengan adanya kegiatan Cikini Fashion Festival ini, program studi Mode Fakultas Seni Rupa IKJ dapat berkembang pesat dari segi keilmuan, dan berperan aktif dalam industri fasion di Indonesia,” ujar Dr. Indah Tjahjawulan, Dekan Fakultas Seni Rupa IKJ.

Dengan mengusung tema “Kolaborasi”, BCL: CiFFest 2017 menyajikan beragam acara yang meliputi kegiatan seminar/master class, pameran, dan fashion show. Tema tersebut antara lain diterapkan melalui fashion show yang berkolaborasi dengan bidang seni lain, yaitu seni tari, musik, tata panggung, dan videografi. Sehingga fashion show ditampilkan sebagi suatu seni pertunjukkan. Fashion show tersebut akan menampilkan 55 rancangan karya 7 desainer yaitu Deden Siswanto, Lenny Agustin, Sofie, Sav Lavin, Aji Suropati , Ray Anjas Maulana, dan label Acakacak oleh LPTB Susan Budihardjo, dengan Penari dan Koreografer Rosmala Sari Dewi serta Video Mapping Creator, Arif Yaniadi.

Pembicara pada Master Class CiFFest 2017

Rangkaian seminar yang digelar BCL: CiFFest 2017 terdiri dari Seminar “Trend Forecasting Indonesia” yang menghadirkan pembicara Dina Midiani dan Tri Anugrah selaku Tim Indonesia Trend Forecasting serta presentasi koleksi kreasi siswa dari empat sekolah mode, yaitu IKJ, LPTB Susan Budihardjo, Universitas Maranatha, dan Universitas Ciputra yang mewujudkan tema Indonesia Trend Forecasting 2017/2018. Kemudian, Seminar “Ekosistem Industri Fashion” dengan pembicara Sadikin Gani (Founder Satusatu Fashion Hub), Deden Siswanto (Fashion Designer), Ali Charisma (National Chairman IFC, Fashion Designer), Wawan Rusiawan (Direktur Riset dan Pengembangan Ekraf-Bekraf), dan Ichwan Thoha sebagai moderator. Serta Master ClassBranding & Technology” dengan pembicara Sabar Situmorang (Founder Rocket Indonesia), Handoko Hendroyono (Produser Film Filosopi Kopi), Stephen Ng (Chief Executive Officer DAV Indonesia) dan Adhi Nugraha (Ketua Aliansi Desainer Produk Industri Indonesia/ADPII).

Melalui ajang BCL: CiFFEst 2017 tak luput dilakukan langkah lanjutan dalam memperoleh kesetaraan dalam pendidikan fashion dengan mengadakan Focus Group Discussion (FGD) tentang “Nomenklatur Pendidikan Tinggi Fashion”. Nomenklatur fashion design/fashion business untuk jenjang sarjana (S-1), magister (S-2), dan doctoral (S-3) belum ada di Indonesia. Jenjang pendidikan tersebut masih berada di bawah nomenklatur program studi desain produk, desain komunikasi visual, atau kriya. Selama ini, Forum Prodi Fashion yang telah dibentuk di Indonesia secara berkesinambungan telah mengupayakan pengajuan nomenklatur tersebut demi kemajuan keilmuan di bidang fashion.

BCL: CiFFest 2017 menghadirkan pameran yang terbagi menjadi dua zona. Pertama zona Trend Forecasting yang menampilkan karya sejumlah desainer dan mahasiswa mode dalam menginterprestasikan empat tema Indonesia Trend Forecasting 2017/2018. Kedua, zona Ekosistem dan Industri Fashion yang mempresentasikan skema dan infografis seputar ekosistem industri fashion, meliputi peta industri dan model bisnis. Serta dilengkapi dengan pameran fotografi fashion karya fotografer Roni Bachroni.

BCL: CiFFest 2017 yang digelar untuk pertama kali ini akan dijadikan acara yang berkelanjutan selama tiga tahun ke depan dengan menitikberatkan sebagai forum temu para pelaku ekosistem fashion Indonesia (desainer, garmen, konveksi, tailor, perusahaan tekstil, UKM/IKM, pengrajin retailer, dan lainnya) serta melibatkan pihak terkait dari berbagai elemen, mulai sektor pendidikan, pemerintahan, komunitas/asosiasi, bahkan khalayak umum. Dengan semangat kolaborasi dari disiplin seni dan desain dalam festival ini, diharapkan pula dapat menyatukan para pelaku ekonomi kreatif terutama fashion untuk mengambil tanggung jawab bersama memajukan industri kreatif.