Biru Daun: Clothing Lokal Khas Jember

0
7923
Love 13
owner-biru-daun
Dian – Owner Biru Daun Clothing

Banyak cara untuk menjaga dan melestarikan budaya lokal sebuah daerah, mulai dengan memasukannya ke dalam kegiatan sehari-hari sampai dengan mengadakan sebuah festival besar untuk memperkenalkan dan melestarikan kebudayaan lokal. Seperti yang dilakukan oleh Dian Fatahillah Ahmad, lelaki kelahiran Jember, 10 Januari 1981 ini mencoba melestarikan kebudayaan lokal Jember melalui usaha clothing miliknya. Berbagai desain dengan tema kedaerahan diciptakan oleh Dian untuk produk kaosnya.

Biru Daun Kaos Jember, begitulah nama usaha clothing milik Dian. Usaha yang dirintisnya sejak tahun 2009 ini, awal mulanya berawal dari kegemaran Dian membuat desain yang kemudian ia jadikan kaos dan dilempar ke toko-toko yang mau menerima. Tapi dari situlah Dian semakin mempunyai semangat untuk belajar tentang produksi kaos. “Jadi belajar nyablon sendiri, tanya-tanya, beli buku, sampai kursus sablon di Jogja. Selama belajar sablon, aku matengin konsep brand ku.” ungkap Dian.

Semangat Dian untuk membuat brand miliknya sendiri pun semakin besar, dan sebelum dinamai Biru Daun, brand milik Dian diberi nama Kill The Superstar. Hal itu hanya berjalan sebentar karena menurut Dian, brand yang dia buat itu mempunyai banyak saingan. Akhirnya atas usul ibunya, Dian mulai merintis Biru Daun dengan konsep kaos lokal Jember. “Pas lagi galau, Ibuku nyeletuk. Bikin kaos I Love Jember saja, gambar Pasar Tanjung atau Wisata Rembangan gitu.” ujar Dian menceritakan ungkapan ibunya.

Merasa menemukan teman pada bisnis clothing, Dian pun mencoba untuk sharing dan bekerjasama dengan usaha clothing Jember Banget. Akhirnya Dian pun mulai fokus pada usaha kaos lokal jember dan mematenkan nama Biru Daun sebagai nama Brand miliknya. “Ketemu sama teman sejalur jadi tambah pede, akhirnya diputuskan fokus ke situ. Nama brand diubah ke Biru Daun. Biru Daun kan bahasa Madura, artinya hijau. Soalnya Jember kan mayoritas Madura.” tuturnya. Berbekal kemampuan sebagai desainer Dian mulai merintis Biru Daun dengan modal seadanya, tapi dia yakin ketika niat didukung dengan usaha maka semuanya akan berhasil.

desain-biru-daun
Desain-Desain Kaos Biru Daun

Menyebarkan Virus Lokal

Kedekatannya dengan budaya lokal Jember adalah alasan utama dia memilih konsep kaos lokal sebagai usahanya. Menurutnya kebudayaan yang ada di Jember cukup unik karena menggabungkan dua budaya daerah yaitu Madura dan Jawa. “Kayak bahasa Jemberan itu kan unik. Campur-campur.” jelas Dian. Menurutnya bahasa yang digunakan oleh masyarakat Jember adalah bahasa yang khas dan tidak akan ditemukan di daerah luar Jember. Selain itu Dian juga mengungkapkan bahwa desain yang dia buat mencakup tempat wisata dan kebudayaan tradisional yang ada di Jember, tapi ia melihat bahwa bahasa khas Jemberan adalah hal yang paling unik.

“Kalo keunikannya yang aku tangkap terutama bahasanya. Soalnya kalo tempat wisata, landmark, dan yang lainnya Jember masih kalah sama daerah lain.” ungkap Dian menambahkan. Menurutnya keunikan itulah yang membuat usahanya mampu bersaing dengan produsen yang lainnya, selain itu Dian juga mengungkapkan bahwa harga kaos yang dijual di Biru Daun disesuaikan dengan pasarnya, mulai dari anak kecil, mahasiswa hingga keluarga. Di samping itu dengan memproduksi kaos lokal Jember dirinya juga ingin mengembalikan rasa memiliki kebudayaan khas Jember pada banyak orang. “Obat kangen buat orang Jember atau yang pernah hidup di Jember. Yang sudah kerja atau hidup di luar Jember.” ucap Dian.

pelanggan-mesir-biru-daun
Pelanggan Biru Daun dari Mesir

Dimulai dari Industri Rumahan

Usaha yang sudah berjalan selama kurang lebih lima tahun ini menurut Dian dimulai dari industri kecil rumahan. Dian mengungkapkan awalnya ia memasarkan produknya melalui reseller, mulai keluarganya sendiri hingga teman-temannya. Setelah itu Dian mulai mencoba menyewa stand toko di Gramedia Jember untuk memasarkan produksi kaosnya secara luas. Sampai pada akhirnya tahun ini, ia berhasil membuat toko sendiri untuk Biru Daun di Jalan Anggrek No. 8 Jember.

Dengan membuka toko Biru Daun Kaos Jember, Dian pun juga ingin serius menjalankan bisnisnya melalui dunia maya. Maka Dian juga mulai bekerjasama dengan berbagai pegiat dunia maya untuk mempromosikan produksi kaosnya.
Usaha clothing Biru Daun pun semakin hari semakin berkembang, sebelum membuat toko dian mengungkapkan bahwa Biru Daun pernah diajak oleh pihak Jember Fashion Carnival (JFC) untuk ikut dalam pameran kebudayaan dan industri kreatif di Gedung Pemuda dan Olahraga Jember pada tahun 2010. Kemudian pada tahun 2012 Biru Daun kembali diajak oleh JFC, kali ini Biru Daun membuka stand toko di alun-alun Jember pada JFC Show. Lalu sekarang Biru Daun sedang dalam proses untuk menjadi official merchandise JFC.

Selain itu, Dian juga mengatakan produk Biru Daun sudah merambah ke luar jawa bahkan ke beberapa negara seperti Australia dan Kanada. Tapi disamping semua itu Biru Daun juga harus melalui banyak tantangan. Menurut Dian tantangan terbesar yang dihadapi Biru Daun adalah modal. “Tantangan terutama modal. Kita ini hitungannya sedikit kehilangan momentum. Setelah buka stand di Gramedia brand awareness-kan sudah tinggi. Tapi baru bisa buka toko sekarang. Harus mulai dari awal lagi, orang sebagian sudah lupa.” tegas Dian. Walaupun banyak tantangan yang harus dilewati Dian bersama Biru Daun, tapi omset Biru Daun terbilang besar. Omset yang didapat pun bisa mencapai 20 juta dalam sebulan.

Tapi Dian tidak terlalu memikirkan omset, ia menambahkan bahwa dengan Biru Daun dia ingin melestarikan budaya lokal Jember lewat desain kaos produksinya. ”Pasti aku ingin melestarikan budaya lokal. Paling nggak lewat gambar. Kayak desainku yg macan kadduk, tari lahbako. Terus juga tak selipin nilai-nilai moral. Seperti beberapa desain yang aku buat tentang ajakan biar nggak buang sampah di sungai.” tutur Dian menambahkan. Dian pun menutup percakapan denga pesan terhadap produsen kaos. Ia mengamati industri desain kaos,bahwa brand kaos jika sudah kuat, maka desainnya jadi kurang diperhatikan. Hanya modal majang logo brand saja. Menurutnya, yang kita jual itu kreativitas, brand menjadi terkenal itu bonus.

 

_____

Tautan Luar:

Foto: Dok. Biru Daun