BISMA Sebuah Aplikasi untuk Kamu Para Pelaku Ekonomi Kreatif

0
288
BIGGER dilaksanakan di Hotel Santika Premier Bintaro

Tangerang Selatan – Pada tanggal 10 Agustus 2017 untuk kedua kalinya Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) mengadakan BIGGER (BISMA Goes to Get Member). Setelah sukses di Bandung, kali ini BIGGER dilaksanakan di Hotel Santika Premier Bintaro, Tangerang Selatan. Dimana fokusnya untuk “menjaring” anggota BISMA pada subsektor Fashion, Kuliner, dan Kerajinan, karena ketiga subsektor inilah yang mempunyai tingkat kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) Ekonomi Kreatif yang lebih tinggi dibanding subsektor lainnya.

Mengapa acara BISMA ini penting, karena Bekraf Information System on Mobile Application atau yang biasa disebut BISMA ini adalah aplikasi informasi kreatif yang dikembangkan BEKRAF agar para pelaku ekonomi kreatif dapat mendaftarkan usaha kreatifnya dan otomatis masuk ke dalam direktori pelaku ekonomi kreatif Indonesia. Selain itu BISMA juga memberikan banyak informasi mengenai HKI, pemodalan, maupun workshop-workshop yang akan diadakan BEKRAF sehingga bisnis para pelaku kreatif dapat lebih berkembang lagi, terang Bapak Slamet Aji Pamungkas, Kepala Sub Direktorat Informasi dan Pengolahan Data Bekraf. Aplikasi BISMA ini untuk sementara hanya dapat diunduh di sistem Android melalui Play Store.

Bapak Slamet Aji Pamungkas, Kepala Sub Direktorat Informasi dan Pengolahan Data Bekraf menerangkan tentang pentingnya BISMA

Pada sesi panel lainnya BIGGER menghadirkan para pejabat BEKRAF untuk memperkenalkan unit kerja yang ada di BEKRAF yang terkait dengan BISMA, antara lain Bapak Wawan Rusiawan (Deputi Riset, Edukasi, dan Pengembangan), Bapak Fadjar Hutomo (Deputi Akses Pemodalan), Bapak Hari Santosa Sungkari (Deputi Infrastruktur), dan Bapak Ari Juliano Gema (Deputi Fasilitas HKI dan Regulasi).

Deputi Riset, Edukasi dan Pengembangan bertugas menyediakan data dan informasi terkait ekonomi kreatif di Indonesia. Data-data ini amat penting karena akan menjadi acuan untuk penyusunan kebijakan-kebijakan strategis untuk pengembangan ekonomi kreatif Indonesia. Selain itu juga berguna bagi para pelaku ekonomi kreatif untuk kepentingan market research, dimana data-data ini sebagian dapat diakses di BISMA. Tugas lainnya yaitu meningkatkan kapasitas, daya saing, dan kompetensi dari para pelaku ke enambelas subsektor ekonomi kreatif. Untuk penyediaan data tersebut Deputi Riset, Edukasi, dan Pengembangan bekerjasama dengan BPS dan provinsi-provinsi untuk melihat potensi di daerah.

Ada dua kendala yang biasanya dialami para startup, yaitu masalah pemasaran dan pemodalan, dimana keduanya saling terkait. Kendala tersebut disebabkan karena para startup kadang memproduksi barang yang dia bisa untuk membuatnya bukan karena untuk memenuhi keinginan pasar. Sedangkan di bidang pemodalan biasanya startup kita belum mempunyai sistem pengelolaan keuangan yang baik. Kondisi ini sesuai dengan riset yang menyatakan 10% dari populasi dunia menguasai 90% keuangan dunia, hal ini terjadi karena 90% dari populasi dunia ini tidak dapat mengelola keuangan dengan baik sehingga habis untuk memproduksi yang tidak perlu atau habis dengan hal-hal yang tidak produktif. Dari hasil riset tersebut Deputi Akses Pemodalan dalam hal terminologi startup mempunyai beberapa program, salah satunya adalah mempertemukan para pelaku ekonomi kreatif dengan lembaga-lembaga pemodalan atau keuangan yang ada. Seperti yang sudah dilakukan satu bulan terakhir, yaitu mengadakan semacam kompetisi untuk para anggota BISMA di bidang Kuliner dan Aplikasi Digital dan Game Developer untuk mendapatkan Bantuan Insentif Pemodalan (BIP). Selain itu dengan mengadakan workshopworkshop cara mengelola modal yang baik dan pembukuan administrasi untuk para startup. Semua info ini dapat diakses di BISMA dan yang dapat ikut serta adalah para pelaku kreatif yang sudah terdaftar di BISMA.

Terkait infrastruktur, BISMA memfasilitasi para anggota BISMA untuk memamerkan hasil produksinya di BISMA yang dapat dilihat dan diakses oleh para anggota BISMA lainnya. Sehingga membantu para pelaku ekonomi kreatif memasarkan produknya secara online.

Para pelaku ekonomi kreatif berbagi pengalaman di acara BIGGER

Selain BISMA ada satu lagi aplikasi dari BEKRAF, yaitu BIIMA yang juga dapat diunduh di Android. BIIMA dapat membantu para pelaku ekonomi kreatif untuk mendapatkan informasi mengenai HKI, cara mendaftar, dokumen apa saja yang diperlukan, serta berapa biaya yang dibutuhkan untuk memperoleh HKI. Program lainnya dari Deputi Fasilitas HKI dan Regulasi adalah fasilitas sertifikasi profesi karena untuk menjadi profesional dan memberikan pelayanan ke konsumen kita tidak hanya butuh bakat dan jago saja, tapi juga butuh pengetahuan umum tentang pekerjaan kita, pengetahuan teknis, dan sikap kita dalam melayani konsumen. Sertifikasi ini pula dibutuhkan apabila kita ikut tender yang membutuhkan pengakuan publik secara profesional.

BIGGER tidak hanya memperkenalkan program BISMA dan BIIMA, tetapi juga memberikan ruang sharing kepada para pelaku ekonomi kreatif yang sudah sukses di bidangnya. Antara lain ada Singgih S. Kartono dari Magno dan Spedagi, Chef Adrian Ishak dari Namaaz Dining, Dendy Darman dari UNKL 347, dan Fajar Handika dari Kulina. Mereka mempresentasikan tentang usaha yang mereka tekuni baik dari segi usaha dan kendalanya. Mereka pun memberikan tips untuk sesama para pelaku ekonomi kreatif agar usaha yang dirintis dapat maju dan berkembang.

SINGGIH S. KARTONO

Nama Singgih S. Kartono tidak asing lagi di dunia desain produk Indonesia. Dia adalah founder Magno “wooden radio” yang pemasarannya sudah mendunia. Berawal dari tugas akhir kuliah pada tahun 1992, Singgih mendesain radio kayunya dengan bentuk klasik yang diberi nama Magno. Sepintas desainnya terlihat seperti bentuk kotak biasa, namun panel depan dan belakangnya dibentuk dengan bentuk lengkung sehingga terkesan bentuk organik.

Singgih S. Kartono, founder Magno dan Spedagi

Terkendala sparepart radio yang sulit didapat karena minimal order yang tinggi dan modal yang kurang, akhirnya baru pada tahun 2005 Magno dapat diproduksi setelah bekerjasama dengan National Gobel Group. Magno diproduksi di Desa Kandangan, Temanggung Jawa Tengah, dibuat secara cermat tiap milimeternya sehingga menjadi produk yang diminati pasar dunia. Saat ini Magno telah dipasarkan ke Jepang, Australia, Selandia Baru, Singapura, Hongkong, Korea Selatan, Amerika Serikat dan hampir seluruh Eropa.

Di bidang desain, Singgih telah berhasil mendapatkan berbagai penghargaan seperti 2nd Winner International Design Resource Award (IDRA) Seattle, USA (1997), Designing wooden-craft toys product ‘Anomali’ series (1996-2003), Shortlisted Participant on International Design Competition ‘Tile with Crystal’ Swarovsky-Designboom.com (2004), Winner of Indonesian Good Design Selection 2005, Winner of Indonesian Good Design Selection 2006, Good Design Award–Japan 2008 in the category Innovation/Pioneering & Experimental Design Activities, Grand Award “Design for Asia Award” 2008 dari Hongkong Design Centre, termasuk Kids Design Award Japan pada 2013 lalu.

Beberapa macam radio Magno

Menyusul suksesnya Magno, saat ini Singgih pun memproduksi sepeda dari bambu yang bernama Spedagi. Berbeda dengan sepada bambu lainnya, 20% dari profit penjualan frame sepeda bambu dan asesoris bambu didedikasikan untuk membiayai program-program Revitalisasi Desa yang merupakan Spedagi Movement. Spedagi meyakini, Desa adalah masa depan dunia yang sebenarnya, yang masih tertinggal di masa lalu.