Filosofi Keris Turut Mewariskan Budaya Dunia

0
2404

20150302_PameranKeris_4

Menginjak periode 1990-an, kegiatan pembuatan keris di Indonesia hampir terhenti secara permanen. Hal tersebut merupakan dampak dari terpuruknya kondisi ekonomi dan terkikisnya nilai-nilai sosial budaya masyarakat. Seiring berjalannya waktu 2005 yang lalu, keris telah diakui secara resmi oleh Dewan Organisasi Pendidikan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Education And Culture Organization (UNESCO), sebagai benda budaya warisan dunia. Tentu turut dikalim juga bahwa benda budaya tersebut berasal dari Indonesia, tak ada bangsa lain lagi yang mampu membuat keris.

Keris memiliki nilai artistik bisa digunakan sebagai investasi, misalnya keris dengan kinatah emas. Ada pula kolektor yang menganggap aspek seni yang dikandung keris memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Maka dari itu keris merupakan salah satu bagian dari ekonomi kreatif Indonesia. Tentu merujuk pada ketahanan warisan budaya dan pekerja seni atau pengrajin keris yang harus disejahterakan.

Pada 12 hingga 15 Februari 2015, bertempat di Gedung Pusat Kesenian Mahasiswa Universitas Jember, Unit Kegiatan Mahasiswa Kesenian (UKMK) Universitas Jember bekerjasama dengan Paguyuban Pecinta dan Pelestari Tosan Aji (PATAJI) Nusa Barong, menggelar acara pameran budaya se-Jawa Bali. Di awal acara, ada sarasehan budaya bertema, ‘Luhuring Kabudayan Jawi’. Dalam sarasehan tersebut dihadirkan KRAP Prasena Cakra Adiningrat, Ketua Bidang Pengrajin dan Empu Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI). Prasena berbincang mengenai apa dan bagaimana tosan aji itu. Kemudian ada pula Dr. IGN Arya Sidemen, SE, MPH, seorang pemerhati budaya. Ia mencoba membedah perspektif masyarakat terhadap tosan aji pada Jaman Edan. Selain itu ada pula DR. Eko Suwargono, M.Hum, seorang pengajar Fakultas Sastra Universitas Jember. Eko membawa topik seputar budaya tosan aji sebagai sarana aplikasi budaya bangsa.

Pameran berupa salah satu bagian dari tosan aji yaitu keris, kemudian ada pula pameran foto dan seni rupa. Selain bursa benda-benda budaya, di luar gedung juga tersedia satu ruang kecil sebagai klinik pembuatan dan edukasi keris sepanjang pameran berlangsung. Keris di era kekinian kerap dianggap sebagai benda klenik. Hal tersebut merupakan dampak dari modernitas yang mengerdilkan warisan budaya bangsa sendiri. Caranya dengan menanamkan citra negatif pada keris. “Tujuan kami memberikan edukasi bahwa keris itu bukan benda mistis, tapi pusaka yang mengandung filosofi yang bisa dijadikan pelajaran. Misalnya keris nogo ningrat yang mempunyai jiwa kepemimoinan yang tinggi. Kami juga mengundang pelajar, mahasiswa, dan kalangan umum,” ujar Rudox Sitompul (19), Ketua Panitia UKMK.

Tiap bilah keris tidak lepas dari nilai estetika seni. Minimal keris adalah perlengkapan pakaian adat Jawa. Juga sebagai senjata. ada lagi sebagai piandel, jika membawanya akan menambah keberanian. “Keris itu bukan klenik dan tak ada hubungannya dengan klenik, murni fisika dan seni. Metalurgi, penyatuan beberapa unsur logam yang berbeda menjadi satu bilah. Orang luar negeri tak akan bisa, ini hanya ada dalam nusantara,” ujar Empu Yoyok.

Serupa dengan Rudox dan Empu Yoyok, Linas Rillah menyatakan bahwasanya misi pada pekerja seni di lingkup benda pusaka sejalan yaitu mencoba mengedukasi masyarakat dan menghilangkan mitos negatif tentang keris. “Inilah perjuangan dari paguyuban-paguyuban di indonesia ini. Tujuan kami memberikan edukasi kepada seluruh lapisan masyarakat bahwa keris itu punya nilai filosofi yang tinggi. Jadi tak perlu ditakuti,” ungkap Linas Rillah.

Tujuan dari digelarnya pameran se-Jawa Bali ini tak lain sebagai wujud komunikasi dan edukasi terhadap masyarakat. Mereka mencoba memberikan pendidikan tentang keris ini khususnya pada kaum muda. Maka kami juga mengundang anak SMP, SMA, dan Mahasiswa dari berbagai daerah. Ada harapan yang kuat agar mereka mengenal budaya bangsa Jawa ini. Kalau tidak dikenalkan maka budaya itu bisa hilang.

Menurut Rudox, UNESCO saja sudah mengakui lantas mengapa rakyat Indonesia menyepelekan pusaka keris. Ada harapan kalangan umum yang datang kesini tidak hanya melihat mahalnya keris. Tapi turut serta mempelajari lebih jauh filosofi berbagai jenis keris. Hal itu bisa dijadikan panutan untuk menjalankan kehidupan sehari-hari. Sejumlah negara antara lain Singapura, Brunei Darussalam dan Filipina, hingga kini belum berhasil mengukuhkan kerisnya untuk diakui dunia.

20150302_PameranKeris_2

Beberapa Hal Mengenai Keris

Keris di jaman dahulu dianggap sebagai Indikator status sosial yang disandang tiap personal. Masyarakat tradisional kerap memfungsikan keris sebagai senjata. Seiring bergesernya jaman, keris tidak lagi digunakan sebagai senjata keamanan, melainkan menjadi benda yang menyimbolkan sesuatu kedudukan maupun religiusitas dari pemiliknya. Ada pula yang memakainya sebagai kelengkapan upacara keagamaan. Terlepas dari itu semua, keris merupakan hasil budaya asli warisan nenek moyang bangsa Indonesia.

Tentu saja keris yang memiliki nilai seni tinggi menjadi penanda bahwa pemilik dari keris tersebut Memiliki status sosial yang tinggi pula. Demikianpula sebaliknya, apabila keris yang disandang seseorang tidak begitu memiliki nilai seni maka itu menunjukkan bahwa pemiliknya memiliki status sosial yang tidak begitu tinggi di masyarakat. Selain itu, keris masih dipandang sebagai benda yang unik karena kekhasan bentuk dan pamor yang menyiratkan makna-makna filosofis yang tidak dimiliki kebudayaan diluar Indonesia.

Keris pada jaman pembuatan itu dinamakan tangguh, misalnya tangguh Jaman Majapahit. Dia punya ciri sendiri, sama kayak kendaraan. Materi nomor satu baru bentuk. Sedangkan Pamor itu semacam hiasan yang ada di keris. Kita bisa tahu keinginan empu dari pamor keris. Misalnya pamornya hujan emas, berarti empu menginginkan siapapun yang memegang keris itu maka berlimpah rejekinya, ada kekuatan semacam itu. Di sisi lain Dapur itu jenis kerisnya. Misalnya luk tujuh dapurnya atau namanya Jaran Goyang. Luk satu namanya Gelang Sari. Sedangkan tangguh adalah jaman atau era keris itu di buat.

Pembuatan keris membutuhkan waktu yang relatif panjang karena beragamnya tahapan yang harus dilalui oleh seorang pembuat keris. Keris yang berkualitas tinggi biasanya dibuat dari tujuh sampai delapan jenis bahan seperti besi baja, titanium, chlor, karbon, nikel, emas, dan pamor dari batu bintang atau batu yang didapat dari jatuhan batu dari langit. Bahan-bahan logam tersebut ditata secara berlapis kemudian ditempa dan dilipat.

Proses tempa dan lipat tersebut diulang berkali-kali sampai ratusan atau bahkan ribuan kali. Dari sana karakteristik dan kualitas bilah keris baru bisa bermunculan. Biasanya bagian pamor baru bisa muncul setelah proses itu. Selain dihiasi pamor, motif akan terbentuk. Beberapa motif yang terkenal yaitu motif naga, singa, semar, lembu, dan sebagainya.

20150302_PameranKeris_1

PATAJI Nusa Barong Menghimpun Kolektor Keris untuk Pameran

Linas Rillah, Ditugaskan oleh kawan2 dalam PATAJI Nusa Barong ditunjuk sebagai Ketua Panitia untuk penyelenggarakan Tosan Aji sejawa bali. PATAJI merupakan paguyuban yang fokus kepada pelestarian tosan aji, yang ditekankan pertama adalah keris. Semenjak tahun 2001, Linas Rillah menggeleti keris. Awalnya dapat warisan satu bilah keris. “Setelah saya melihat keindahan keris, saya berusaha mempelajarinya,” ujarnya.

Lalu dia mempunyai inisiatif untuk menyisir keberadaan kolektor keris di beberapa daerah. Hal tersebut dia lakukan guna menemui dan berbagi ilmu dengan kolektor keris yang lain. selain itu jika ketika berkeliling daerah, lalu menemukan keris yang dimiliki sesorang akan tetapi dalam kondisi yang tak terawat. Dia rela membeli atau membayar mahar keris itu. Tentu agar dia bisa merawatnya. “Pertama-tama saya keliling-keliling ke desa-deasa. Setelah itu kalau ada orang punya keris tapi tidak peduli dengan kerisnya, akhirnya saya maharkan dia maunya berapa. Saat dapatnya keris itu berkarat, lalu saya bersihkan. Kerangkanya rusak, saya betulin. Terus begitu keliling dari tempat satu ke lainnya,” ungkap Linas Rillah.

Kegiatan rutin tiap bulan dari PATAJI Nusa Barong sendiri berupa membabar atau membedah atapun mengurai keris. Mencari tahu keris tiap bilah keris asalnya dari mana merujuk pada dapurnya, kemudian ricikannya (perangkat keris) apa, dan filosofinya apa. Menurut Linas, normalnya tiap bilah keris mempunyai panjang antara 35 sampai 38 sentimeter. Sedangkan luar Jawa, Bali misalnya sampai 45 sentimeter. Setiap anggota PATAJI Nusa Barong punya bermacam pusaka, ada yang punya 600, 200, dan sebagainya. Sedangkan Linnas sendiri punya sekitar 200 bilah pusaka.

Salah satu keri yang paling dia sukai ialah jenis Patrem, keris yang panjangnya sekitar 20 sentimeter. Seperti Bung Tomo dan Diponegoro dulu memakai keris ini. Fungsinya untuk kekuatan bahwa pemiliknya adalah pencinta sejati keris, maka dari itu tiap bilah keris koleksinya dianggap seperti seperti istri sendiri. Di sisi lain Linas merasa kagum dengan kepintaran pengrajin keris jaman dahulu. “Saya berpikir jaman dahulu kita sudah mempunyai teknologi yang sangat tinggi. Pembuatan keris bagi saya punya nilai seni yang indah. Karena berapa tempahan dan lipatan. Sang empu menciptakan salah satu Tosan Aji atau pusaka namanya keris,” ungkap Linas.

Jaman dahulu keris itu mencerminkan strata sosial seseorang. Jadi ada menandakan identitas, misalnya ini golongan ningrat atau wedana. Tapi di jaman sekarang ini muncul berbagai pemaknaan negatif dan melenceng mengenai keris. “Karena sudah dimindset begitu rupa oleh modernitas, jadinya keris itu dianggap sakral, berbahaya jika dipegang. Banyak sekali pemaknaan negatif lainnya. Jika dipegang seseorang di jaman dahulu itu ke mana-mana, orang akan hormat, karena itu identitas. Kalau sekarang meksi keris itu dulunya dipegang oleh ara raja tapi kita bawa kemana-mana pasti orang berpikir bahwa gita gila seperti mau karnaval,” jelas Linas.

Keris itu punya karakter masing-masing, misalnya petani memagang tilam sari. “Tapi jika petani memegang senjata prajutit perang ya tidak bagus karena tidak cocok. Petani akan sulit tidur karena kepikiran terus. Seperti misalnya pistol dipegang oleh petani, ya dia akan bingung,” cerita Linas. Ia bersusah payah mencoba menghimpun para kolektor keris dari berbagai daerah untuk kegiatan ini. Beberapa jejaring yang bisa mengikuti di antaranya dari Bali Diwata, Malang Hisaka, Madura, Jogja, Panji Blambangan. Selama para kolektor keris memakai jejaring facebook. Semua paguyuban keris maupun tosan aji di tiap wilayah, tergabung atau dinaungi dalam SNKI.

20150302_PameranKeris_3

Ruang Pembuatan Keris

Di klinik pembuatan keris, tersedia berbagai peralatan membuat keris. Beberapa di antaranya berupa ukupan atau kompor untuk membakar, Paron atau alat untuk nempa, palu, dan japit untuk memegangnya. Di ruangan terbuka yang hanya diteduhkan oleh tenda kecil itu, Empu Yoyok, pembuat keris yang datang dari Surabaya itu terlihat tengah berbincang dengan beberapa rekannya. “Saya belajar membuat keris otodidak mulai tahun 90. Dari buku dan teman. Kebanyakan teman saya dulu pintar membuat keris, kayak Empu Paosan,” ungkap Empu Yoyok.

Awalnya dia gregetan karena dijanjikan terus oleh Eyangnya. Dia menunggu diwarisi keris tapi tak kunjung mendapatkannya. Akhirnya dia meminjam keris dari Eyangnya, lalu membuat duplikatnya. Atas dasar kemauannya yang kuat tersebut, Empu Yoyok belajar membuat keris secara otodidak. “Saya tak pernah gagal membuat,” katanya.

Setelah Empu Yoyok menikah dengan seorang perempuan keturunan kerajaan di Yogyakarta, Empu Yoyok dibanjiri pesanan keris. “Saya melayani Kraton Yogyakarta sudah lama. Istri saya masih trah HB III. Jadi saya bukan abdi tapi saya Kraton Dalem, otomatis. Saya salah satunya orang luar Kraton yang bisa. Saya asli Surabaya,” ungkapnya. Seluruh keris pesanan yang dibutuhankan Lingkungan Kraton bersifat rahasia, varian jenisnya tak bisa disampaikan ke publik.

Menurut Empu Yoyok, penggarapan paling lama bisa satu tahun, tergantung harapan pembuatnya. Ada berbagai ritual khusus dan jeda untuk merenung yang dilakukan secara kontinyu oleh pembuatnya. Paling banyak dalam satu bilah keris ada tujuh materi, baja, besi, pamor (titanium, plur, sama nikel) kemudian dari penempaan dia keluarkan karbon besi sama karbon baja. Pamor itu ada dua macam, pamor tiban atau terjadi dengan sendirinya. Ada juga pamor rekan, telah dirancang sebelumnya. Dasarnya cuma dua, penataan mluma dan miring.

Sudah banyak hasil eksperimennya. Ada berbagai motif pamor baru, yang tadinya belum ada kemudian diciptakan oleh Empu Yoyok. “Tahun lalu saya membuat bentuk yang tadinya sudah ada, tapi itu dua keris saya jadikan dalam satu keris. Itu kan keris luk 13 sama keris dapur jala saya jadikan satu bilah,” ungkap Empu Yoyok. Fungsi keris tergantung harapan dari pembuatnya. Setiap Empu juga punya sikap tersendiri dalam mendisiplinkan dirinya untuk memproduksi keris. Empu Yoyok sendiri berusaha keras agar terus produktif menghasilkan berbagai bilah keris dalam setiap tahunnya. Menurutnya membuat keris merupakan sebuah upaya untuk merekam jaman. Fenomena alam yang membentuk pertanda tiap jaman. Maka dari itu setiap jaman bentuk keris yang dibuat pasti berbeda, sesuai dengan kondisi alam dan fenomena sosial.

Tak semua orang bisa mengkoleksi keris yang diproduksi oleh Empu Yoyok. “Orang punya duit belum tentu bisa ngoleksi karya saya. Kalau saya tidak suka sama orangnya, berapun harganya tidak akan saya berikan. Itulah seniman,” sikap Empu Yoyok. Pernah kerisnya laku dengan mahar seharga 450 juta dalam sebuah lelang. Akan tetapi pernah juga kerisnya yang lain, sempat ada yang nawar 250 juta namun tak dia berikan.

Sejauh ini, Empu Yoyok telah membina banyak murid dari berbagai wilayah. “Ada murid saya dari Paguyuban Adopsi Keris, orang Madiun, salah satu penasehat peguyuban itu murid saya. Saya pendiri dan pembina paguyuban yang di JAwa Timur bernama Condro Aji Surabaya,” ungkap Empu Yoyok. Akronim dari Condro Aji sendiri yauti, Condro itu bulan, mewakili penghidupan, terang tapi tidak menyilaukan. Aji itu sesuatu yang dihargai. Jika ditafsirkan, sederhanyanya maksud dari nama itu ialah budi pekerti agar lebih menghargai kehidupan kita yang penuh kisah.

_____

Tautan Luar:

Foto: Dieqy