Indonesia Buku dan Tantangan Besar Dunia Literasi

0
11311
Love 17

20141228_PameranBuku_3

Membaca adalah jendela dunia, begitu pepatah lama mengatakan. Membaca adalah kegiatan yang sangat menyenangkan dan bermanfaat karena dengan membaca kita bisa melihat luasnya dunia melalui berbagai buku. Maka dari itu budaya literasi menjadi sangat penting bagi masyarakat luas agar terbentuk Sumber Daya Manusia yang sadar akan lingkungan di sekitarnya. Selain itu untuk menghadapi globalisasi, sebuah bangsa harus mempunyai masyarakat yang cakap dan matang dalam hal-hal literatif.

Membudayakan literasi tentu tak lepas dari kegiatan membaca dan menulis, dari kegiatan itulah Muhidin M Dahlan dan kelima kawannya yaitu Taufik Rahzen, Galam Zulkifli, Dipo Andy Muutaqien, Eddy Susanto, dan Yayat Surya mendirikan Yayasan Indonesia Buku, sebuah yayasan yang menyelenggarakan serta membudidayakan budaya literasi melalui riset dan pengarsipan di Kota Yogyakarta.

“Indonesia Buku dibuat sebagai wadah peneliti-peneliti belia partikelir berlatih meriset dan menulis. Terutama sekali tentang sejarah Pers Indonesia, Kronik Indonesia, Sastra Indonesia, Puisi Nusantara. Sumber buku dan timbunan kliping untuk kebutuhan riset itulah yang menjadi pengisi gudang Warung Arsip.” ungkap Muhidin M Dahlan atau kerap dipanggil Gus Muh.

Berbagai ruang dan berbagai acara diadakan oleh yayasan yang berdiri pada tanggal 23 April 2006 ini di sekretariat mereka di Jalan Patehan Wetan No. 3, Pojok Alun-Alun Kidul, Keraton Yogyakarta. Menurut Gus Muh, Indonesia Buku mengadakan berbagai kegiatan untuk membuka ruang literasi bersama bagi masyarakat luas seperti menyelenggarakan puluhan riset, diskusi literasi, pengarsipan, pembangunan jaringan, dan membangun perpustakaan komunitas.

20141228_PameranBuku_1

Membudidayakan budaya literasi bukanlah hal yang gampang, kemauan masyarakat serta kondisi sosial yang ada di lingkungan juga sangat berpengaruh pada tersebarnya kemauan untuk membaca dan menulis, apalagi zaman yang semakin modern membuat kebanyakan masyarakat terlena dengan berbagai fasilitas. Tapi Gus Muh dan kawan-kawan tak patah arang, Indonesia Buku pun dibentuk untuk mengikuti kemajuan zaman dengan membuat sebuah saluran radio streaming yang dinamai Radio Buku.

Menurut Gus Muh, Radio Buku adalah sebuah ruang arsip suara yang mengkomunikasikan berbagai aktivitas literasi yang dilakukan di semua lembaga di dalam naungan Yayasan Indonesia Buku. Selain itu pada tahun 2011 bersamaan dengan diadakannya penulisan sejarah dan pengarsipan kampung, Indonesia Buku semakin memperlebar sayapnya dengan membuat Warung Arsip, yaitu sebuah showroom ekonomi kecil dan menengah bagi koleksi-koleksi yang dimiliki oleh Indonesia Buku yang sudah dikumpulkan sejak tiga dekade silam.

Berbagai koleksi yang ada di Warung arsip adalah benda-benda literasi yang memiliki nilai historis bagi perjalanan rakyat indonesia, seperti terekam dalam buku, koran, kamera, kaset, maupun video. Di Warung Arsip kita bisa mendapatkan berbagai arsip atau dokumentasi berharga yang sudah jarang ditemui, layaknya potongan-potongan koran dari taun-tahun terdahulu.

Di dalam Warung Arsip terdapat tiga klasifikasi arsip atau dokumentasi untuk mempermudah pencarian, yang pertama adalah arsip teks yaitu dokumentasi berupa buku dan kliping dari koran-koran di masa yang lampau. Arsip teks adalah jenis arsip terbanyak yang dimiliki oleh Warung Arsip. Kedua adalah arsip audio dan audiovisual, dokumentasi ini dihasilkan dari kerjasama dengan Radio Buku yang merekam secara intensif narasi dari suara-suara para pengisah tentang dunia literasi Indonesia. Kemudian yang ketiga adalah arsip foto yaitu kumpulan dari berbagai gambar yang tercetak di buku-buku, majalah, koran, termasuk iklan atau advertensi.

20141228_PameranBuku_4

Berbagai koleksi itupun digandakan kemudian dijual melalui website Warung Arsip, menurut Gus Muh kegitan yang dilakukan oleh Warung Arsip adalah kegiatan ekonomi berbasis kewirausahaan sosial. Karena hasil dari penjualan itu tidak diperuntukkan untuk memperkaya individu atau perusahaan, melainkan keuntungan diolah Yayasan Indonesia Buku untuk memelihara artefak arsip dan menyelenggarakan program-program yang menyokong keberlanjutan kegiatan literasi.

Gus Muh mengatakan bahwa kegiatan mengarsip adalah kerja budi dan sekaligus kerja sosial, karena berhubungan dengan penyampaian sejarah melalui berbagai arsip yang sudah lampau dan mulai ditinggalkan. Akan tetapi, kerjaan yang dilakukan oleh Yayasan Indonesia Buku tidaklah mudah. Berbagai kendala harus dilewati oleh Gus Muh dan kawan-kawan. Seperti layaknya komunitas yang lain, permasalahan yang dihadapi oleh Indonesia Buku adalah kesinambungan pengkaderan, asupan dana dan sekretariat yang permanen.

Tapi berbagai kendala itu pun berhasil dilewati oleh Gus Muh dan para anggota Indonesi Buku yang lainnya. “Kendala-kendala itu dihadapi sebagai sebuah proses kreatif harian yang harus dijalankan tidak dengan keluhan, tapi dengan sikap keras kepala dan uji daya tahan.” ujar Gus Muh. Selain itu Gus Muh juga mengungkapkan bahwa Indonesia Buku mendapatkan dukungan dari berbagai komunitas literasi dan jug pemerintah baik pemerintah kota atau provinsi. “Sebagai komunitas yang fokus dengan literasi, mau tak mau kami harus terhubung, tidak hanya dengan komunitas literasi lain, tapi juga pemerintah baik pemerintah Kota atau Provinsi Yogyakarta maupun pusat, terutama pendidikan informal.” tambah Gus Muh.

Berbagai dukungan dalam berbagai bentuk pun didapatkan oleh Indonesia Buku, seperti donasi buku dari berbagai pegiat literasi yang biasa disebut oleh Indonesia Buku sebagai Booklovers. Lalu dari penjualan lukisan milik para pendiri Indonesia Buku yang hampir semuanya perupa dan kerjasama program dengan pemerintah Yogyakarta. Dukungan itulah yang juga membantu Indonesia Buku terus berkembang dan semakin memasifkan budaya literasi di Indonesia. Menurut Gus Muh selama masih ada yang memperjuangkan dan merawat keyakinan bahwa budaya literasi adalah hal yang penting, maka selalu ada harapan bahwa gerakan literasi berkembang dari waktu ke waktu.

20141228_PameranBuku_2

Jika dilihat sekarang budaya litersi yang intensif memang masih dimiliki oleh kota-kota besar saja, tapi dengan adanya gerakan literasi seperti Indonesia Buku tidak menutup kemungkinan budaya literasi akan semakin berkembang ke kabupaten-kabupaten bahkan ke kampung-kampung yang ada di Indonesia. Apalagi jika gerakan-gerakan literasi di tiap kota bekerjasama dan menciptakan frekuensi dan kesadaran yang sama tentang pentingnya budaya literasi dalam membangun peradaban maka tidak sulit untuk meciptakan masyarakat titeratif.

Menurut Gus Muh dengan mendorong program-program kecil berbasis literasi, berbudget kecil, tapi menginspirasi dan bermanfaat bagi banyak masyarakat adalah awal untuk mengembangkan budaya literasi di Indonesia. Selain itu Gus Muh juga mengatakan bahwa membudidayakan budaya literasi di kampung-kampung kecil di Indonesia adalah sebuah tantangan besar.

“Kultur literasi di kampung-kampung yang jumlahnya hampir 88 ribu di Republik Indonesia ini adalah tantangan besar. Dan tantangan ini sudah dicanangkan Sukarno sejak Indonesia Merdeka. Ini tugas semesta rupanya. Makanya kerja kultur literasi ini masuk dalam preambule UUD ‘45 sebagai tugas pokok negara, siapa pun presidennya: “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Bangsa adalah warga dari ragam suku dan bahasa, yang mendiami hampir 90 ribu kampung yang terserak di belasan ribu pulau.” pungkas Gus Muh.

 

Tautan luar:

 

Foto: Dok. Pribadi