Nandanggawe: The Box of Scopophilia

0
1161

20150223_TheBox_2

Seorang teman pernah berkata, bahwa awal yang baik akan menentukan hasil akhir yang baik. Benar tidaknya pernyataannya tersebut perlu pembuktian lebih lanjut. Berbicara soal awal atau memulai suatu program, galeri s.14 memulai program 2015 dengan menggelar pameran dari seorang seniman yang dikenal dengan nama Nandanggawe yang berlangsung dari tanggal 31 Januari hingga 21 Februari 2015.

Nandanggawe, memiliki nama lengkap Nandang Gumelar Wahyudi, dilahirkan di Bandung pada tahun 1970. Ia mengenyam pendidikan seni rupa di SMSR Yogyakarta dan meyelesaikan pada tahun 1990 serta STSI pada tahun 2002. Sebagai seorang seniman, Nandanggawe telah mengikuti pameran bersama maupun tunggal, diantaranya di Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Padang, California, Kraljevo. Bahkan karya video drawing dari Nandangawe ini tercatat dalam Triennial of Extended Art Media di Belgrade,Serbia. Pada tahun 1999 karya lukis dari Nandanggawe mendapatkan penghargaan 10 terbaik Philip Morris Indonesia Art Awarad dan pada tahun 2009-2010 ia menjadi nominator dalam kompetisi menggambar di Kulturni Centar Zrenjanin,Kraljevo.

Pada pameran tunggalnya yang ke-16 berlangsung di galeri s.14 tepatnya di Jl. Sosiologi no. 14 Perum UNPAD Cigadung, Bandung. Nandanggawe memberi judul The Box of Scopophilia pada karyanya tersebut. Nandanggawe yang lebih dikenal dengan teknik menggambarnya, menurut beberapa pengamat seni rupa, ia selalu menggangkat tema-tema yang bersinggungan dengan orang-orang yang termarjinalkan. Pada pameran kali ini ia menampilkan karya yang berbeda, karya 3 dimensi yang berbentuk kotak dan mempunyai berukuran 45 x 50 x 170 cm.

Proses kreatif The Box of Scopophilia dimulai pada tahun 2012 hingga 2014 ketika ia mencoba membaca kembali tanda-tanda pada karya-karya sebelumnya dan ia rekonstruksi ulang dengan menggunakan kotak, kunci, gunting, payung dan benda-benda lainnya yang muncul sebagai tanda-tanda baru dalam karyanya tersebut. Karya The Box of Scopophilia ini ia bangun dari sebuah lemari yang sudah tidak terpakai. Menurutnya lemari adalah sebuah wadah untuk menyimpan benda – benda untuk bisa diperlihatkan seperti pada lemari pajang di rumah- rumah atau bahkan untuk disembunyikan didalamnya. Lemari tersebut kemudian Nandanggawe dimaknai sebagai tubuh manusia yang menyimpan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kesehariannya.

20150223_TheBox_3

Dengan menggunakan pendekatan yang didasari oleh teori yang dicetuskan oleh Sigmund Freud mengenai mekanisme ego, Nandanggawe mencoba menawarkan kepada publik tentang karyanya yang ia tafsir ulang dari tanda-tanda yang ada pada karya – karyanya sebelumnya. Kemudian ia tampilkan dalam bentuk-bentuk nyata melalui karyanya yang berjudul The Box of Scopophilia. “Saya menganggap bahwa proses kreatif dari The Box of Scopophilia ini merupakan proses eksperimen saya terhadap tingkah laku saya yang tadinya harus saya simpan tapi dibuka untuk dibaca oleh publik.” ujarnya. Baginya, karya yang ia buat tidak mampu semua diungkapkan sehingga terkadang dirinya menyimpan, memanjang sekaligus menyembunyikan pengertian-pengertian dari karyanya. Tetapi kalau orang lain ingin masuk dan menyelidiki, maka ia akan banyak menemukan hal lain yang akan terungkap yang bisa merefleksikan dirinya terhadadap orang lain atau dirinya sendiri dalam kotak The Box of Scopophilia tersebut, tambahnya kagi.

Pameran Nandanggawe ini juga tidak lepas dari perhatian dari seorang sahabat yang juga seorang kurator, Aminudi T H Siregar. Menurutnya karya – karya dari Nandanggawe sebelum The Box of Scopophilia, selalu menunjukkan metafora – metafora rasa keterasingan dan termarjinalkan. Nandanggawe percaya bahwa seni itu harus berguna dan harus memberikan kontirbusi untuk masyarakat, yang merupakan tipikal seniman tahun 90-an. “Kotak tersebut merupakan metofora tentang dirinya.” ujar Aminudin. Walaupun ia mamanfaatkan bend-benda yang terbuang namun ia rakit kembali menjadi suatu seni instalasi tapi menurut Aminudin bobot politiknya sudah tidak ada seperti karya – karya sebelumnya.

Saat ini karya dari Nandaggawe, menurut Aminudin lebih tentang dirinya sendiri dan memori-memori dia yang dimetaforakan dalam bentuk kunci, bunyi – bunyian, cahaya dan lain sebagainya. Kesemuanya itu ia bungkus rapih ke dalam sebuah kotak. Ia juga memberikan perhatian kepada kunci-kunci yang hadir di dalam The Box of Scopophilia, menurutnya ada sesuatu yang disembunyikan oleh Nandanggawe dan kita tidak pernah tahu kunci mana yang berfungsi untuk membukanya. Menurut Aminudin juga dalam beberapa hal karya Nandanggawe pada The Box of Scopophilia ini, mewakili perasaan-perasaan kita.

20150223_TheBox_1

_____

Foto: Julius