OK. PANGAN OK. VIDEO – Indonesia Media Arts Festival 2017 Dibuka

0
155

Siaran Pers – Tahun ini, OK. Video – Indonesia Media Arts Festival, sebuah perhelatan dua tahunan seni media di Indonesia, mengangkat teman utama PANGAN. Tema ini diangkat sebagai upaya pembayangan kultur pangan seperti halnya kultur media itu sendiri di kalangan masyarakat. Menurut salah satu kurator, Julia Sarisetiati, hubungan pangan dan media terletak pada konteks pesebarannya, dimana pelaku di antara dua kultur tersebut adalah warga itu sendiri.

OK. Video sejak perhelatannya di tahun 2003 dimaksudkan sebagai sebuah festival yang mencoba membawa seni dalam perluasan-perluasan artistik dan mediumnya. Bersamaan dengan itu berusaha menjangkau persoalan sosial kekinian yang semakin kompleks di masyarakat. Terkhusus di dalam OK. Pangan OK. Video – Indonesia Media Arts Festival 2017 ini, seni media ditempatkan sebagai wadah kerja seni yang demokratis. Putusan artistik mungkin ada di tangan seniman, tetapi properti artistik bisa saja ada di tengah masyarakat. Strategi artistik dipakai untuk mengurai kompleksitas isu-isu sosial yang berlangsung di masyarakat. Seni membutuhkan keterlibatan aktif praktisi disiplin ilmu lain, termasuk komunitas dan masyarakat. Hasil dari praktik kerja kolaboratif ini, menurut salah satu kurator OK. Pangan asal Filipina, Renan Laru-an, sebuah perhelatan seni mendorong para pengunjungnya untuk bisa saling berdialog dan berdiskusi mengenai isu yang diangkat. Dalam konteks ini, seni tidak lagi berkutat pada persoalan estetika yang menekankan keindahan semata, namun lebih mengajak para pengunjung festival untuk merefleksikan pengalaman keseharian mereka melalui karya-karya seni media.

Beberapa karya seni media pada OK. Pangan ini menggunakan pendekatan proyek seni, dengan mengudang berbagai seniman dan praktisi dari Indonesia dan beberapa negara lain untuk terlibat bersama dalam merespon isu pangan. Satu di antara program OK. Pangan adalah Open Lab, program residensi yang bertujuan mengeksplorasi dan menampilkan hubungan antara media, teknologi, dan politik pangan. Seni media sebagai wadah produksi artistik yang kolaboratif menjadikan Open Lab sebuah pendekatan laboratorium sebagai sebuah tempat (place) dan ruang (space) pertemuan terbuka yang melibatkan seniman, ilmuwan, para praktisi dari berbagai latar belakang ilmu pengetahuan. Selain itu, partisipan dari warga pun coba diajak untuk bekerja sama dan berbagi pengetahuan serta pengalaman. Program Open Lab ini adalah wadah berkelanjutan yang masih akan terus berlanjut setelah festival usai. Open Lab ini terbagi menjadi dua; pertama residensi yang membutuhkan kehadiran fisik; kedua residensi yang bersifat virtual.

Yang pertama merujuk pada pertemuan langsung antara seniman dan para praktisi ilmu pengetahuan dalam menjalankan proyek seni. Praktik Open Lab yang pertama ini menghadirkan 9 (Sembilan) proyek seni yang melibatkan 19 seniman/lembaga/komunitas yang berkolaborasi. Program Open Lab yang pertama ini berlangsung Juni-November 2017 di Gudang Sarinah Ekosistem.

Sementara itu, Program Open Lab yang kedua, Residensi Virtual, adalah usaha mempertemukan seniman dan komunitas serta kolaborator—terdiri dari komunitas, organisasi, dan peneliti virtual—yang dimediasi perangkat jejaring internet. Residensi yang bekerja sama dengan Forum Lenteng dan pad.ma ini hendak menyikapi kemungkinan baru kerja kolaborasi seni yang dimungkinkan di era komunikasi internet. Residensi virtual diharapkan menghasilkan solusi dan purwarupa terkait isu pangan yang sedang dihadapi dan bisa diterapkan langsung dalam konteks festival. Program residensi virtual ini telah menerima 12 proposal dari berbagai negara. Para peserta terpilih akan berkerja mulai Agustus-September 2017. Adapun presentasi dari hasil akhir Open Lab Resindesi Virtual ini akan berlangsung pada perhelatan Festival Arsip yang diselenggarakan oleh Indonesia Visual Art Archive (IVAA) pada Oktober 2017 mendatang.

Penyajian program pameran dalam festival ini dirancang untuk menciptakan dialog dengan lokasi Jakarta dan Bogor, situasi di Indonesia, dan konteks Asia Tenggara. Beberapa karya dalam pameran ini juga menggunakan arsip sebagai usaha melacak masa lalu dan sejarah terkait dengan dimensi ekonomi, politik administrasi, dan sejarah sosial dari makanan. Banyak karya yang ditampilkan merupakan hasil kerja sama senimannya dengan komunitas dan NGO (Non Government Organization) yang fokus di bidang isu pangan.

Pameran OK. Pangan OK. Video – Indonesia Media Arts Festival 2017 akan dilaksanakan sepanjang 22 Juli – 16 Agustus 2017, di beberapa titik di Gudang Sarinah Ekosistem, yaitu Hall A1; Hall A4; Hall B; RURU Galllery, Museum Zoologi Bogor, dan Pusat Perpustakaan & Penyebaran Teknologi Pertanian. Program yang terkandung di dalamnya adalah Pameran, Open Lab, Program Belajar, Simposium, Performance, dan beberapa program pendukung lainnya.* Pengunjung akan dipungut donasi sebesar Rp 10.000 untuk satu kali kunjungan. Program Pameran Ok. Video Ok. Pangan 2017 ini melibatkan 35 seniman dan lembaga yang berasal dari 13 negara. Salah satu karya dari seniman asal New York berada di Museum Zoologi Bogor. Offsite Exhibition tersebut akan dibuka pada pada 10 Agustus, dan dipamerkan sampai 16 Agustus 2017.

Daftar lengkap nama peserta pameran:

1. Agung Kurniawan (Yogyakarta)
2. Ales Cermak (Praha)
3. Arne Hendriks (Amsterdam)
4. Ary Sendy & Heru Sukmadana (Jakarta
5. ASEAN Secretariat Resource Center and Sajogyo Institute (Bogor)
6. Bakudapan Food Study Group (Yogyakarta)
7. Carolina Caycedo (Los Angeles)
8. Cooking Sections (Daniel Fernandez and Alon Schwabe) (London)
9. Hanne Nielsen & Brigit Johnsen (Copenhagen)
10. Jen Liu (New York)
11. Jonathas Deandrade (Recife)
12. Luinambi Vesiano (Yogyakarta)
13. Mark Sanchez (Quezon City)
14. Matteo Guidi (Barcelona)
15. Minerva Co-Lab (Jakarta)
16. Minja Gu (Seoul)
17. Nastiti Dewanti & Teguah Safarizal (Jakarta)
18. Pinar Yoldas (Ann Arbor)
19. Prajakta Potnis (Mumbai)
20. ruangrupa & Noorderlicht (Jakarta)
21. Run Wrake (Ashford, Kent)
22. Saleh Husein (Jakarta)
23. Gelar Agryano Soemantri (Jakarta)
24. Syaiful Garibaldi (Bandung)
25. Tadasu Takamine (Akita)
26. Ursula Biemann and Paulo Tavares (Zurich/Quito/London)
27. Wapke Feenstra (Amsterdam)