Sandi Jaya Saputra: Menemukan Subyektivitas pada Fotografi

3
3451

20150220_Sandi_3

A picture have a thousand words, sebuah ungkapan yang sudah sangat akrab ditelinga kita. Sebuah ungkapan yang menjelaskan bahwa sebuah gambar atau foto bisa memberikan banyak makna dan cerita bagi penikmatnya. Makna yang kontruksi oleh sang pembuatnya, dalam hal ini seorang fotogafer, dengan pendekatan teknik yang baik dan sudut pandangan yang personal dari sang fotografer dalam menceritakan suatu cerita atau isu tertentu.

Patrick Zachmann, salah seorang fotografer dari agensi fotografi bergensi, Magnum Photos, dalam sebuah tulisannya yang dibukukan berjudul Magnum, menuliskan “Henri Cartier-Bresson claimed that one has to step back from reality and become invisible. Robert Capa said you have to get close to your subject that you feel fear. As for D’Agata, while he belongs perfectly to tradition of reportage, he gets close enough to his subject to make them blurred , and even includes himself in some pictures, as if to show that to leave oneself out would be a delusion.” Dari cuplikan tulisan Patrick Zachman tersebut, ia mau menggambarkan bahwa setiap fotografer mempunyai suatu pendekatan yang berbeda dalam menunjukan subyektivitas dalam memotret dan berkarya. Pemikiran dan proses kreatif tersebut juga yang menginpirasi salah satu fotografer muda dari kota Bandung, Sandi Jaya Saputra dalam berkarya.

Pria yang dilahirkan pada 30 tahun yang lalu di salah satu kota priangan, Garut, Sandi Jaya Saputra atau yang lebih akrab dengan nama Usenk menyelesaikan pendidikannya di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Bandung, Universitas Padjadjaran pada Fakultas Ilmu Komunikasi jurusan jurnalistik. Selain itu, ia mendapatkan beasiswa dari Ateneo de Manila University selama satu tahun dengan jurusan fotografi jurnalistik. Sepulangnya Sandi dari Manila ia pun melanjutkan pendidikan masternya di salah satu perguruan tinggi negeri yang bergengsi di Indonesia, Institut Teknologi Bandung. Kali ini Sandi mengambil jurusan yang berbeda dari sebelumnya, yakni ia berkuliah pada fakultas seni rupa dan desain dengan pilihan jurusan seni murni atau fine art.

20150220_Sandi_1

Ketertarikan Sandi pada dunia fotografi dimulai sejak ia masih duduk dibangku Sekolah Menengah Atas. Pada saat itu ia merasa bahwa fotografi adalah hal yang menyenangkan, bisa motret ini dan itu. Secara keilmuan, pendidikan fotografi ia dapatkan pada saat dirinya menempuh pendidikan strata pertamanya di fakultas ilmu komunikasi Universitas Padjadjaran, dimana fotografi adalah mata kuliah yang wajib diambil oleh setiap mahasiswa yang mengenyam pendidikan pada jurusan jurnalistik. “Pada awalnya fotografi adalah kecelakaan.” begitu pengakuan dari Sandi. Bahkan ia pun sempat ‘menggantungkan‘ kameranya pada kisaran tahun 2005 hingga 2008 dan lebih memilih untuk memulai berbisnis. Pada saat itu Sandi belum bisa melihat dan merasa bahwa fotografi bukan sebagai jalan hidupnya tetapi ia melihat fotografi hanya sebagai hobi yang mengisi waktu luang saja.

Pada tahun 2008, merupakan titik balik sebagai seorang Sandi Jaya Saputra. Setelah ia menjalani binisnya tersebut ia merasakan dan menghadapi banyak problematika yang membuat ia mengambil kesimpulan bahwa bisnis bukan merupakan jalan hidup baginya. Pada tahun yang sama ia bertemu kembali dengan beberapa orang rekannya pada waktu kuliah. Bersama-sama dengan teman-temannya tersebut Sandy mulai kembali menggenggam kameranya setelah ia tinggalkan selama tiga tahun. Brigade Photo, sebuah perkumpulan kecil yang dibentuk Sandi bersama beberapa orang temannya tersebut menjadi wadah dimana ia dapat belajar kembali tentang fotografi, diskusi dan ia mulai melihat sebagai fotografi sebagai suatu pencerahan.

“Fotografi itu seru.” ujarnya. Ia banyak mendapatkan referensi yang lebih luas lagi tentang dunia fotografi dan berkesempatan untuk bertemu serta belajar dari orang-orang yang telah lebih dulu menentukan jalan hidupnya menjadi soerang fotografer. Pada tahun 2009, Sandi berkesempatan mengikuti workshop di Angkor Photo Festival, Kamboja. Workshop yang ia ikuti tersebut ditutori oleh Antoine D’Agata, salah seorang anggota dari agensi fotografi bergengsi di dunia, Magnum Photos. Pertemuannya dengan Antoine D’Agata ini lah yang membuat dirinya semakin yakin akan pilihan jalan hidupnya sebagai fotografer.

Sandi memilih fotografi dokumenter sebagai pilihan bidang fotografi yang ia tekuni. Alasan Sandi memilih fotografi dokumenter karena sebagai pekalu fotografi jurnalistik ia merasa ada sesuatu yang tidak bisa ia ekspresikan. Ia berpendapat bahwa dalam fotografi dokumenter itu sangat kental unsur subyektivitas dan akurasi konten. Kedua unsur inilah yang tidak ia dapatkan dalam fotografi jurnalistik yang lebih mengedapankan obyektivitas.

20150220_Sandi_2

“Dalam Fotografi dokumenter, gue yang dapat mengekspersikan siapa diri gue dan dapat menghidupi jiwa gue.” ujar Sandi. Walaupun pada awalnya, Sandi sukar mendapatkan kesubyektivitasnya karena pengaruh dari sang inspirator, Antoine D’Agata, masih sangat melekat pada dirinya. Tapi akhirnya ia berhasil keluar dari bayang-bayang D’Agata. Ia mencoba mengkolaborasikan foto dokumenter dan fine art yang ia pelajari dari pendidikan masternya di Institut Teknologi Bandung. Ia sama sekali tidak berkeinginan menciptakan genre baru dalama fotografi, tetapi ia berusaha untuk mengolah estetika dan emosi dalam menyampaikan sesuatu melalui fotografi.

Sebagai seorang fotografer, Sandi tentunya menerima penugasan pemotretan dari berbagai instansi antara lain Rolling Stone Indonesia dan Metal Hammer Megazine dari UK. Ia juga menciptakan karya-karya foto. Karya – karya foto tersebut beberapa telah ia pamerkan baik dalam maupun luar negeri. Pameran yang pernah ia ikuti adalah, Asean-Korea Centre Exhibition ‘Asean Self – Portrait‘ yang diselenggarakan di The Seoul Museum of History, Seol, Korea Selatan pada tahun 2012. Di tahun yang sama Sandi juga mengikuti showcase pada helaran Biennale Singapore International Photography Festival di Singapura. Pada tahun berikutnya, Sandi pun menyertakan karya dalam pameran Spot Art pada Singapore Biennale dan beberapa pameran lainnya.

Sandi, selain memotret ia juga berusaha berbagi pengetahuan fotografi yang ia dapatkan selama ini dengan menjadi staf pengajar di beberapa perguruan tinggi di Kota Bandung, salah satunya di Universitas Padjadjaran. Sandi juga mempunyai keyakinan bahwa berkarya dengan baik maka seorang fotografer tidak perlu takut bahwa ia akan tersaingi oleh fotografer lainnya dan selalu menciptakan karya yang baik, maka ia akan menjadi ‘siapa-siapa’. Dalam mewujudkan keyakinannya tersebut, ada beberapa pekerjaan rumah yang harus ia selesaikan, seperti pembuatan dan peluncuran buku fotografi dari karya-karya yang pernah ia kerjakan dimana harus diselesaikan pada tahun 2015 ini. Sandi pun mempunyai suatu harapan bahwa dimasa yang akan datang fotografi di Indonesia bisa mendapatkan apresiasi yang layak dari masyarakat.

_____
Tautan Luar:

Facebook:https://www.facebook.com/IndonesianVine?fref=ts
Website:http://www.sandijayasaputra.com

3 COMMENTS