Fenomena ‘Serangan Fajar’ dalam Kartun Politik

0
3105
20140807_Pameran_Serangan_Fajar_6

20140807_Pameran_Serangan_Fajar_5Fenomena pemilihan presiden dan wakil presiden periode 2014-2019 menggugah lima kartunis yaitu Didie SW, GM Sudarta, Jitet Koestana, Rahardi Handining, dan Tommy Thomdean untuk menggelar pameran kartun politik. Karya mereka terinsiprasi oleh beberapa tulisan Garin Nugroho tentang pekerjaan Presiden Indonesia periode 2014–2019 mendatang.

“Pemilu sebagai pendidikan warga negara adalah perkara yang mendesak. Oleh karena itu, saatnya mengubah pemilih yang melodramatik menjadi masyarakat rasional-kritis,” tutur Garin Nugroho.

20140807_Pameran_Serangan_Fajar_4

Menurut Garin, ranah komunikasi publik dipenuhi konsumerisme komunikasi olok-olok, gosip, hiburan vulgar, dan dangkal. Demokrasi menjadi sekadar kekerasan jalanan. Sementara itu panduan haluan kerja berbangsa tidak terkomunikasikan. Masyarakat pun kehilangan demokrasi sebagai pengelola informasi publik yang kritis dan produktif.

Perkiraan mengenai tugas-tugas negara ke depan tersebut harusnya segera disadari setelah memahami dinamika dari awal kemerdekaan hingga saat ini. Ada banyak hal yang dilakukan dalam jangka pendek dalam setiap kepengurusan kepresidenan. Sehingga setiap pergantian presiden akan terjadi pengulangan. Kelima kartunis menawarkan rencana pembangunan Indonesia ke depannya melalui seni.

Pameran yang digelar mulai 7–13 Juli 2014 tersebut memamerkan 63 karya seni. Bertempat di Bentara Budaya Jakarta, pameran bertajuk “Serangan Fajar Kartun Politik” diselenggarakan. Aromanya politis. Ada beragam kartun mulai dari dengan kadar humor yang tinggi hingga yang tampak serius dan tajam.

20140807_Pameran_Serangan_Fajar_6

Sikap yang diungkapkan dalam wujud kartun merupakan salah satu cara untuk mengekspresikan gagasan melalu sudut pandang tertentu. ‘Serangan fajar’ ini bisa dikatakan serupa kampanye yang kental akan muatan edukatif, menjadi suplemen bagi penikmatnya untuk memperluas wacana.

Kartun yang menggambarkan situasi politik tersebut akan merangsek masuk dan mempengaruhi pola pikir publik. Rata-rata bermuatan kritik, sindiran, dan harapan. Ada pula ajakan yang kuat untuk menertawai diri sendiri, seolah menyediakan gerbang panjang untuk memaknai tanggung jawab bersama yang tak kunjung tereksekusi.

Setiap kartun berangkat dari kegelisahan yang didapatkan terkait dinamika sosial-politik Indonesia. Kelima kertunis sedemikian jeli menangkap fenomena tersebut. Mereka seolah mengajak berefleksi atau merenungkan kembali polemik dan kondisi negara kita. Sindiran terasa sangat halus dan mengundang senyum. Dengan menertawakan diri sendiri seolah kritik yang tajam disembunyikan di balik humor. Namun pesan kritis masih terjaga menghuni di dalamnya. Pada akhirnya kartun politik bisa dijadikan rujukan untuk memahami dinamika sosial-politik negeri ini.

20140807_Pameran_Serangan_Fajar_1

Tautan Luar: