Theory of Discoustic, Musik Folk Asal Makassar

0
2032

Rehearsing

Mendengarkan tembang-tembang Theory of Discoustic asal Makassar ini seperti menyantap makanan asli milik suku Bugis yang rasanya nikmat sekali yaitu Barongko. Kerenyahan vokal Dian Megawati dan bahasa lirik yang indah bertaburan di tembang-tembang Theory of Discoustic. Menyerahkan kuping kita untuk mendengarkan tembang-tembang Theory of Discoustic layaknya menyerahkan diri pada alam yang hjiau dan luas untuk kemudian menaburkan doa-doa kita di sana. Setelah sukses menelurkan satu mini album yang manis, Dialog Ujung Suar di tahun 2012, kini trio Ujung Pandang, Sulawesi Selatan itu kembali meluncurkan mini album keduanya yaitu Alkisah di penghujung tahun 2014. Theory of Discoustic terdiri dari Dian Megawati (vokal/harmonica), Reza Enem dan Nugraha Pramayudi (gitar) serta didukung oleh Fadly FM (bass), Hamzarullah (drum/perkusi) dan Adriady Setia Dharma (keyboard/perkusi).

Keunikan dari grup musik ini terletak pada genre yang mereka mainkan dan tema-tema yang diangkat. Oleh sebab itu, kedatangan mereka tidak sekadar disambut dengan ucapan “selamat datang” saja. Beberapa pengamat musik seperti Adib Hidayat dan Alm. Denny Sakrie bahkan menyambut dengan gembira kedatangan grup musik beraliran folk ini. “Theory of Discoustic menjemput semangat folk dalam pola musiknya yang disarungi lirik nan matang. Alkisah adalah oase,” tulis Alm. Denny Sakrie 11 Desember 2014 beberapa minggu sebelum beliau meninggal. Musik folk belakangan ini memang bukan menjadi genre yang populer di Indonesia, namun Theory of Discoustic cerdas dalam mengemasnya hingga banyak sekali yang menyukai tembang-tembang mereka sehingga terbukti karya-karya mereka punya nilai jual yang tinggi.

Mayoritas pendengar Theory of Discoustic ialah kalangan muda. Wajar saja bila karya mereka disukai oleh kalangan muda. Musik folk yang diusung oleh Theory of Discoutic ini masih tetap catchy meskipun mengambil tema-tema yang lampau dan tradisional. Justru banyak yang menganggap di situlah nilai uniknya grup ini. Bias Bukit Harapan, Sebuah Harapan Musim Hujan, Satu Haluan dan Alkisah menjadi tembang-tembang yang paling banyak diminati serta menjadi sorotan. Bias Bukit Harapan merupakan tembang tradisional Sulawesi Selatan, “Indo’ Logo” yang didaur ulang ke dalam Bahasa Indonesia. Tembang tersebut mereka interpretasikan lewat lagu genre musik mereka dan syair-syair baru. Menurut Reza Enem, pemetik gitar string Theory of Discoustic, “Intisari dari syair “Indo’ Logo” ibarat sebuah pertanyaan, kenangan yang manakah yang akan kita lambangkan sebagai nostalgia.” tulis Reza melalui email kepada Indonesia Kreatif.

Kendati berubah bahasa, Bias Bukit Harapan adalah musik yang indah dan puitik, yang bersedia mengantarkan kita kepada memori-memori lama sesuai dengan maknanya. (Saat terang mentari kan mewujud kian nyata / Menuju rimbunan memori terjaga / Jejak pagi tiba menari bahagia).

Album: Alkisah – Theory of Discoustic

Hebatnya, grup musik ini tidak hanya mendaur ulang lagu tradisional menjadi lagu folk kontemporer saja. Di album Dialog Ujung Suar, tembang Sebuah Harapan Musim Penghujan diilhami dari sebuah kisah yang terkandung dalam tari tradisional daerah Sulawesi Selatan, Tari Pabbakanna Lajina. Tari itu dikenal sebagai tarian pemanggil hujan kala musim kemarau datang, bila hujan datang, mereka pun senang karena akan mengairi ladang. (Sebuah kemarau dan persembahan harapan penghujan / lentik jemari merayu alam sumpahkan niat dalam sebuah gerak tarian.)

Lagu tersebut disukai karena kesyahduannya. Ditambah dengan suara vokal Dian Megawati yang mendayu-dayu membuat kita merasakan seperti sedang berada dalam suatu upacara tradisi yang sakral. Khusuk nan hikmat. Tembang Satu Haluan dalam album Alkisah tak kalah syahdunya. Tembang ini diadopsi dari peribahasa Sulawesi Selatan, yang dalam Bahasa Bugis berbunyi Le’ba kusoronna biseangku, kucampa’na sombalakku, tamammelokka punna teai labuang. Jika diartikan akan berbunyi seperti ini, bila perahu telah kudorong, layar telah terkembang, takkan ku berpaling kalau bukan labuhan yang kutuju. Peribahasa tersebut mengingkatkan kita akan pentingnya keselarasan antara perbuatan dan ucapan.

Album: Dialog Ujung Suar – Theory of Discoustic

Sementara tembang Alkisah bisa kita temui pada penghujung album ini. Lewat lagu ini, kita mesti mengakui bahwa Theory of Discoustic memang memiliki lirikus yang handal. Tembang-tembang lainnya dari Theory of Discoustic baik di mini album Dialog Ujung Suar maupun Alkisah sangat layak untuk disimak. Tembang-tembang Theory of Discoustic disebarkan lewat akun Soundcloud resminya. Namun tembang-tembang di dalamnya hanya dapat didengarkan saja tanpa bisa dimiliki atau diunduh secara gratis. Untuk memiliki karyanya sekaligus menghargai kreativitas Theory of Discoustic, kita baiknya membeli CD asli album Dialog Ujung Suar maupun Alkisah yang tersedia di toko musik yang tersebar di Jakarta, Bandung dan berbagai kota lainnya.

Paduan Kearifan lokal Sulawesi Selatan dan musik folk ini akan menjadi sebuah penanda baru bagi perjalanan kebudayaan Sulawesi Selatan. Kita kembali sejenak pada kisah Barangko di awal paragraf tadi. Ya, tentang makanan tradisional asal Makassar yang terbuat dari pisang itu. Menurut desas-desusnya, Barangko dikenal sebagai makanan yang selalu mempertahankan kualitas rasa dan kelezatannya. Oleh karena itulah Barongko tidak mudah dijumpai di pasaran dan ‘mahal’. Karenanya, seperti itulah analogi yang patut kita berikan kepada Theory of Discoustic, renyah serta tak mudah untuk kita jumpai di pasaran.

_____
Tautan Luar:
Facebook: https://www.facebook.com/theoryofdiscoustic?fref=ts
Twitter: https://twitter.com/theoryofdis_tic
Website: http://www.theoryofdiscoustic.com