Transit#4 ; Menyelami Alam Seni Jelekong

0
215

Siaran Pers – Sejak 2011, Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) mengadakan program reguler residensi untuk seniman Indonesia. Dalam setiap periode residensi, SSAS mengundang 3 – 4 seniman muda yang diharapkan dapat mengembangkan gagasan/konsep yang baru melalui lokakarya didukung dengan beberapa fasilitator yang berperan sebagai rekan diskusi. Tajuk transit dipilih untuk melandasi sebuah filosofi “persinggahan sementara” bagi seniman-seniman terpilih untuk menuju proses kekaryaan yang lebih matang.

Pada perkembangannya, transit memiliki beberapa tujuan yang khas. Pertama, program residensi ini dapat menyebarkan pengetahuan kesenirupan kepada seniman-seniman di luar pusat seni rupa di Indonesia. Melalui transit, beberapa seniman yang berada di luar pusat seni rupa itu dapat mendapatkan pengalaman kekaryaan yang baru serta mendapatkan pengetahuan wacana dan teknik seni rupa kontemporer. Selain itu transit juga mampu mengakomodasi keberadaan seniman yang memiliki kecenderungan kekaryaan yang berbeda, yang selama ini masih belum mendapatkan perhatian dari medan seni rupa kontemporer.

Jelekong adalah sebuah kelurahan yang berlokasi di Kabupaten Bandung. Sejak lama kawasan ini terkenal sebagai sentra lukisan. Banyaknya pelukis yang berdiam di sana membuat daerah ini sering dikunjungi wisatawan serupa dengan daerah-daerah sentra lukisan lain seperti Ubud, Gianyar dan Sokaraja, Banyumas. Pernah suatu masa, Jelekong ditinggali tak kurang dari 600 pelukis yang menyebarkan karya-karyanya tidak hanya di Jelekong, melainkan juga di tempat lain.

Jika disebut genre, lukisan Jelekong memilki sebuah ciri khas yakni menggambarkan pemandangan, dan secara khusus menampilkan objek gunung, sawah, sungai dan pepohonan disertai petani dan kerbau yang sedang beraktivitas di sawah. Lukisan Jelekong dalam beberapa hal menggambarkan suasana khas pemandangan elok bumi Priangan. Genre lukisan ini disebut Mooi Indie yang sudah hadir di Indonesia sejak abad ke 19. Dipercaya sejumlah pelukis Belanda yang mengajarkan teknik dan penggambaran seni lukis ini ke beberapa orang pribumi dan menyebar secara cepat menjadi bagian dari komoditas pariwisata.

Komunitas Jelekong, merupa lanskap alam.

Komunitas perupa Jelekong sudah berdiri sejak 1970an, dipelopori oleh mendiang Odin Rohidin, berkiblat pada seni lukis lanskap alam. Karya-karya dari Jelekong diproduksi untuk kepentingan dekorasi ruangan, dijual dalam jumlah banyak, dengan harga terjangkau dan tidak dijadikan instrumen investasi. Seiring waktu, perkembangan kekaryaan di komunitas perupa Jelekong mencakup genre yang lebih luas: alam benda, binatang dan seni abstrak. Para perupa di Jelekong terbagi menjadi: mereka yang mengerjakan bisnis lukisan secara paruh waktu—sambil mengerjakan bisnis lain—dan purnawaktu, mengerjakan bisnis ini sepenuhnya. Kelompok yang pertama ini dapat disebut sebagai “Jelekong Klasik”.

Namun di sisi lain, ada juga perupa-perupa lain—yang bekerja paruh waktu—yang menyisihkan waktu untuk melakukan eksperimen kekaryaannya secara mandiri. Walaupun masih mengerjakan lukisan pesanan untuk mencari nafkah, mereka menggunakan waktu luangnya untuk berkarya secara mandiri dan mulai membangun reputasi sebagai seniman. Perupa-perupa ini memiliki perhatian khusus pada perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia terkini, meluangkan waktu untuk melakukan apresiasi dan mengikuti pameran sehingga memiliki rekam jejak yang tercatat dengan jelas. Mereka sudah mulai melihat dunia seni rupa sebagai dunia dengan potensi karir yang spesifik. Kelompok kedua ini dapat disebut sebagai “Jelekong Kontemporer”.

Walaupun keduanya sama-sama profesional, dua kelompok ini memiliki medan sosial dan kultur industri yang berbeda satu sama lain. Dalam industri Jelekong klasik, rantai distribusi adalah: perupa-pengepul-pasar (non investasi)-kolektor. Dalam kasus Jelekong kontemporer, rantai distribusinya adalah: perupa-kurator-artspace/galeri/museum-pasar (investasi)-kolektor/investor.